Friday, September 25, 2015

02:00 Singgah, Sebentar, Sementara


Ini mengenai rasa yang singgah. Dan yang perlu digaris bawahi, singgah itu hanya sebentar, sementara, tak untuk menetap. Nomaden, tempat tinggal hati bagi yang masih mencari. Hanya singgah, berpindah-pindah sampai menemukan tempat untuk menetap.
Kisah ini belum sempat singgah. Dia sudah jauh, tak tersentuh.
Pamit sebelum terusir, rasa ini tahu diri namun setelah ini ke mana lagi akan dibawa pergi? Pergi jauh, mungkin akan mengobati. Lari dari bayangannya maka kau tak akan mendapatkannya ─ di sini ─ di hatimu.
Tak ada yang bisa menggantikan persahabatan Nara dengan Rengga, namun Eky hadir menggantikan posisi kenyamanannya sebagai sahabat. Eky teman yang baik. Namun untuk persahabatan, Nara lebih menjaga jarak, tak mau menyakiti seperti dulu Nara menyakiti Rengga.
Nara selalu dibuat kebingungan mencari kejelekan Eky.
 “Dasar juragan liur!” kata Eky sambil menjulurkan lidahnya. Nara bingung ingin membalasnya. Terlalu mengada-ada jika tak ada kejelekan yang bisa mempermalukan Eky.
“Apaan?! Huh, dasar ...” Andai saja bisa mempermalukannya. Eky terlalu bersih dari kenakalan sebagai seorang lelaki.
“Apa?? Lanjutin dong!” tindas Eky sambil menunjuk-nunjuk sudut bibirnya. Eky mendapati Nara yang ngiler, ketiduran waktu mengerjakan tugas. Itu mengapa Eky selalu menindas Nara dengan air liurnya yang meluber.
Nara merasa sangat cocok walaupun sering ditindas sahabat barunya itu. Mengenai hobinya yang sama, menulis. Hanya saja, Eky menulis ceritanya melalui gambar. Ya, Eky paling suka bercerita melalui gambar. Dan Nara lebih suka menulis cerita pada diary-nya.
Suatu saat Nara pernah menceritakan impiannya untuk belajar ke negeri menara Eiffel. Nara sangat ingin ke sana dan menjelajah Eropa. Eky yang membuat impian itu terus menyala tiap harinya. Melihat lukisan menara Eiffel yang indah dan megah di kamarnya. Membuat Nara terus memelihara keinginannya. Walau hanya bisa membayangkannya, impian itu dibiarkan hidup bersama lukisan buatan Eky.
***

Nara tak sendiri, dalam persinggahan cinta dua sahabat ini dia bersama Kiky. Entah kapan, diinginkan atau tidak, perjalanan cinta ini menjadi rumit. Jalan yang harusnya bisa dilewati dua orang, kini harus dilalui bertiga. Karena mulai saat itu mulai timbul konflik kecemburuan dari Kiky. Seakan tak mau tahu alasannya ─ Nara dan Eky hanya bersahabat. Mau tak mau, salah satu dari Nara, Kiky, atau bahkan Eky harus pergi. Membentuk jalan sendiri, merelakan untuk pergi.
Kiky, dia telah satu langkah bahkan lebih di depan Nara. Dia menunjukkan bahwa dia tak hanya mengungguli Nara, dia juga menunjukkan kepercayaan diri yang tak Nara punya. Orang seperti Kiky seperti angka-angka jam yang telah berada pada keyakinannya dan hanya menunggu jarum jam menghampiri. Sedangkan Nara, masih terus berputar mencari-cari angka yang selanjutnya ada di hadapannya. Kiky menganggap Nara saingannya. Nara hanya bisa menjalani tanpa bisa menjelaskan. Bagi orang yang sedang jatuh cinta seperti Kiky, tak akan berarti penjelasan apa pun ─ buta karena cinta.
***

            Nara dan Kiky, mereka memulai pada tempat yang sama dan waktu yang sama.     Cinta segitiga yang sebegitunya membuat Kiky menjaga jarak dengan Nara. Walaupun Kiky tahu Nara dan Eky hanya bersahabat.
            Nara menganggap Eky hanya sebagai sahabat. Berbeda dengan Eky yang menyukai Nara. Sahabat yang dijadikannya kedok untuk pendekatan. Semua aktivitas Nara di kampus, bisa jadi bahan untuk pendekatan Eky. Mulai dari meminjam tugas kuliah, meminjam catatan, sampai meminta Nara mengajarinya materi kuliah yang kurang dimengerti. Kire paling peka masalah pendekatan yang dilakukan Eky. Chika apalagi, walaupun terlambat menyadari. Chika sering berbagi informasi pada Eky tentang Nara. Namun Chika baru menyampaikannya saat semua menjadi rumit karena Kiky.
            Nara masih belum bisa menunjukkan kepastiannya. Teringat perkataan Kire, “Sebenarnya sinyal-sinyal cinta dari Eky telah ada sejak dulu, namun aku masih belum yakin,” Nara tak menyadari ada yang menunggunya. Cara Eky untuk mendekati Nara, menjadi sahabatnya.
“Ah, tak penting. Yang jelas aku hanya bersahabat dengan Eky, kita lihat nanti. Mungkin akan sama seperti Rengga, cinta itu tak bisa singgah walau sebentar,” gumam Nara yang sedang menyangga kepalanya di meja kelas.
            Nara masih takut untuk memulai. Dan dia terlambat menyadari bahwa cinta itu tak bisa menunggu. Padahal, yang bisa dilakukan seorang perempuan untuk cintanya adalah menunggu. Usahanya hanya menunggu, menunggu kepastian dari orang yang ditunggu.
            Eky menanti sambutan dari Nara, lebih dari sekadar teman. Perlahan cinta yang serba tak pasti ini akan hilang karena waktu. Eky memutuskan untuk mencari kepastian lain. Dan kepastian itu datang dari Kiky. Secepat itu cinta pergi karena ada cinta yang lain. Kiky, akhirnya dia yang cepat sampai di perjalanan cinta ini.
            “Kamu pergi saja,” begitu kata Nara, “Tak usah lagi hiraukan aku.” Kepedulian Eky justru akan menambah rasa sakit Nara. Karena Kiky akan bertambah rewel jika Eky tetap dekat dengannya.
Sungguh ini biasa saja bagiku, tak begitu menyentuh. Masih terkendalikan, walaupun menyesakkan.
Kita hanya teman,
Bicara seperlunya, bertemu seadanya, bertatap tanpa makna.
Tersenyum dan berayun langkah, kemudian berlalu.
Berbeda rasa,
Kita tak pernah saling memberikan makna.
Kadang hanya mengingatkan, tak untuk saling mengisi.
Sejenak dan terhenti pada wajah samar ditelan waktu.
Sebatas itu...
***

            Nara tak ambil pusing. Semua dijalani seolah tak memikirkan. Namun kehadiran Kiky, benar-benar membuat Nara serba salah. Berkutat dengan kecemburuan wanita. Tak disadari Nara, pikirannya tertarik pada masalah cinta Eky. Nara mulai peduli dengan semua yang dilakukan Eky. Semua karena Kiky, Nara lebih memilah-milah untuk dekat dengan Eky.
            Kepedulian yang membuat semuanya dihubung-hubungkan. Kiky tak akan cemburu berlebihan jika tak ada sebab. Belum jadi kekasih saja, kecemburuannya sangat menggangu.
“Jadi, cerita apa yang Eky gambar saat itu?”
Eky hanya menggambar pelangi yang datang di sela rintik hujan. Menerobos ke ingatan saat itu. Sewaktu Nara dan Eky ke sebuah danau di taman kampus. Melihat pelangi dari air danau. Nara masih juga tak mengerti. Perkataan Eky waktu itu, masih menimbulkan tanya di benaknya. Terlalu besar memberikan makna pada kata. Karena saat itu alam sedang menunjukkan keindahannya.
“Kamu tak mengerti, rinduku juga tertahan pada lengkungan di ujung sana,” ucap Eky. Nara mencoba mengingat semuanya, “Cinta yang ada walau samar tak ada kejelasan. Sekilas, namun memberi arti. Lalu kita terpisah direngkuh waktu yang tak kunjung menyatukan,” Sisa-sisa ingatan yang mencoba diusik Nara dari masa lalu.
“Apa ini maksudnya?! Aku tak kunjung menyadari cinta yang hadir. Aku terlalu sibuk menikmati cinta yang kupunya entah untuk siapa,” pikir Nara.
            Tak ada kepastian dalam hubungan ini. Sekarang atau juga nanti, hanya sebatas ini.
Rezky Pradana
               Dan aku tak ingin bertahan, dan meminta disanggupkan untuk bertahan. Aku ingin pergi.
               Letih jika harus menunggu kehadiranmu di waktu lain, hanya resah jika terus menunggumu.
               Walau begitu, tak semudah itu meniadakan cintamu.
           
            Pesan dari Eky yang membuat Nara semakin tak menentu.
“Lebih baik mencoba menerima atau tinggalkan! Ah, sepertinya aku terlalu banyak menyakiti perasaan sahabat sendiri!” Nara mencoba meredam konflik hati yang terjadi.
            Eky pergi. Seperti kepastian yang selalu diidam-idamkan para perempuan pada cintanya, disambut dengan lelaki yang mencoba dan memastikan kebahagiaannya pada perempuan yang mencintainya ─ pada Kiky. Perlahan cinta mereka tumbuh. Seiring dengan tumbuhnya perasaan di hati Nara, walau terlambat. Perasaan yang ada saat Eky telah pergi untuk orang lain.
            Melihat mereka, Nara sangat bahagia. Teman sendiri bisa menjadi sepasang kekasih. Namun sakit yang dirasakan Nara jauh lebih pasti.
“Apa ini cinta? Ah, pasti hanya bentuk penyesalan. Ada yang mencintaimu, dan kamu kehilangan cintanya. Sebatas itukah?!” Nara bertanya pada hatinya.
Sejauh ini hubungan mereka baik-baik saja. Berbalik dengan perasaan Nara.
“Mengapa cinta datang terlambat padaku?!”
“Hadir di saat semuanya pergi... Ya itu yang namanya tak jodoh Ra,” Chika mencoba memahami kisah mereka. Walaupun sama-sama tak pernah mengerti cinta. Dua sahabat ini hanya berusaha mengerti cinta yang samar-samar, antara iya dan tidak pernah dirasakan keduanya.
***

            Libur semester kali ini, teman-teman sekelas merencanakan pergi ke Jogja. Semua hadir dengan pasangan masing-masing. Bertemu dan dipisahkan, berjumpa lalu dijauhkan. Hanya masalah fisik yang tak bisa bertatap, namun hati tak pernah tahu. Mungkin dia masih ada di benakmu, walau telah pergi.
“Ya, bagi yang mengerti dan paham cinta, bertemu dan kehilangan sudah biasa terjadi,” Dan liburan kali ini menjadi tak biasa untuk Nara.
            Malam keakraban diadakan di kediaman sepupu Nara. Pukul 09.00, makrab dimulai. Dua setengah tahun sudah bersama, hanya ada tiga teman yang tak terpisahkan, tak terganti. Mereka sekelas menyebutnya gang ‘Joris’, jomblo miris.
“Tak ada sebutan yang lebih elegan apa?! Mereka ini!” Chika kesal melihat teman-teman yang lain tertawa terbahak-bahak.
“Apa kamu Re, kamu kan gak jomblo lagi!” timpal Chika.
“Buktikan saja ─ kalau kita jomblo berkualitas,” kata Nara meringis.
“Tetap gak enak kali Ra, JOMBLO!!” kata Chika mengeja huruf demi huruf yang teramat berat untuk disandangnya.
            Di tengah gelak tawa, Eky datang menghampiri, “Aku tak enak, kamu harus pisah dari Kiky.”
“Ah, nggak apa-apa. Bukan mau kita kan.” Eky berlalu.
“Pembagian kelompoknya gimana sih?! Mau tak mau...” kata Nara kesal.
            Agenda makrab kali ini, setiap kelompok yang sudah dibagi harus tampil untuk mengisi acara. Chika, Nara, dan Eky satu kelompok. Mereka memutuskan untuk membuat drama percintaan khas Indonesia.
“Ya terpaksa. Gak ada yang bisa nyanyi, main alat musik, mau apa lagi?!” kata Nara lemas.
Setelah seharian berlatih membaca naskah secara terpisah, pertunjukkan dimulai.
“Instan, latihan jarak jauh demi menjaga perasaan Kiky. Jadinya seperti apa nanti?!” gumam Nara.
“Sudah, ayo maju!” Chika mengangguk.
It’s show time beb,” Kire menyemangati Nara dan Chika yang akan tampil.
***

Nara    : “Aku bukan Roro Jonggrang, yang menolak cinta dengan membebanimu beribu syarat.”
Eky     : “Tapi aku Bandung Bondowoso, yang mau berkorban apa pun demi cinta. Apa pun yang kamu mau akan kukabulkan!”
Nara    : “Maaf, tapi kamu begitu angkuh. Kamu pikir, cinta bisa dibeli?! Aku tak punya perasaan apa pun padamu.”
Eky     : “Baiklah, aku tak akan mengemis cinta padamu. Kamu akan menyesalinya, karena telah menolakku! ─ Singkat cerita.
            Drama diakhiri dengan kepergian Eky. Tinggal Nara berdiri pada padang terbuka. Menjadi bagian langit, berdiri di kegelapan malam. Tak ada yang menjadi patung dalam drama itu. Hanya saja, Nara mematung tanpa kejelasan. Matanya beralih dari langit, menatap Kiky.
            Seketika, teman-teman yang lain memberikan tepuk tangan riuh. Nara hanya menatap ke satu arah. Kiky terlihat tak senang, memalingkan wajah ketika Nara melihatnya.
            Dingin, namun yang terasa hanya panas yang membuat gatal seluruh tubuh. Nara merasa tak nyaman dengan Kiky.
“Sungguh tak ada maksud untuk menyakitinya.” Nara tahu, Kiky sangat mencintai Eky. Tak pernah sedikit pun terbesit untuk memisahkan Kiky dari Eky.
            Nara memberanikan diri menemui Kiky.
“Aku ini siapa! Aku tak berarti apa-apa dibandingkan kamu Ky. Kamu cantik, pintar, baik, lembut. Kamu mencintai Eky dan sebaliknya, Eky mencintaimu. Pertahankan hubungan kalian,” Nara tersenyum. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi.
            Ada hal yang tak pernah Nara ceritakan pada siapa pun. Tak ada yang tahu bahwa dia pernah mengalami hal buruk yang menyangkut aibnya. Pelecehan seksual yang dialaminya saat masih kecil dulu. Walaupun tak berdampak banyak pada fisiknya, namun pada jiwanya, masih membekas sampai saat ia dewasa. Berusaha sekuatnya menghadapi trauma yang tak seorang pun tahu.
            Ingatan yang tak terhapus waktu. Jangan salahkan Nara tentang masa kecilnya yang suram ini. Orang lain hanya akan melihat tangisannya, namun tak pernah tahu apa yang ditangisinya. Rasa rendah diri selalu muncul saat mengingat hal menyedihkan itu.
            Walau samar, namun seiring bertambahnya usia. Peristiwa itu membuat dia menjauhi lelaki. Tak ada yang tahu, bahwa ketika Nara menyukai seseorang, perlahan perasaan itu menghilang. Entah karena takut, atau apa pun, jadi tak pernah ada ujungnya.
“Doorr!!” Chika membuyarkan lamunan Nara.
“Apaan Chika, ngagetin aja lu!” Nara tersenyum.
Kire datang. “Eh Re, gimana tadi pertunjukkannya, bagus kan?!” kata Chika bersemangat.
“Apaan?! Yang drama itu Nara dan Eky. Ngapain tadi kamu disebelah Nara?!” ledek Kire.
“Iya Ka, dialogmu mana? Cuma diam aja tadi,” kata Nara sepakat.
“Jangan salahkan aku. Kamu tadi dialog berdua terus sama Eky, sampai lupa sahabatnya cuma jadi jangkrik,” kata Chika menggebu.
“Hahaha, iya maaf. Tadi kan udah dikode. Eh, malah diam aja. Ya sudah lanjut!” kata Nara geli membayangkan Chika yang krik-krik.
***
            Eky menjumpai Nara di rumah. Jika perempuan berkata tidak apa-apa, berarti apa-apa. Inti dari rumitnya wanita yang paling sederhana. Harus dimengerti Eky sebelum cintanya siaga satu. Alasan apa pun, untuk seorang kekasih seperti Kiky tak akan bisa terima jika kekasihnya lebih sering bersama prempuan lain.
“Cepatlah pulang. Aku tak ingin memperkeruh suasana.”
“Kiky ngerti kok, nggak mungkin dia marah tanpa alasan.”
“Kamu harus mengerti rumitnya cinta. Dan perempuan yang ada di dalam cinta, yang ahli memperumit masalah.” Eky hanya tertawa mendengar perkataan Nara.
            Cinta dan wanita, dua ‘...ta’ ini adalah paduan yang saling melengkapi dalam meliuk-liukan rasa. Eky masih saja tak paham.
“Sudahlah, pulang! Cintamu menunggu. Dia merindukan kehadiranmu. Yang ditunggunya adalah awal-awal saat kamu bersamanya,”
Hubungan Eky dan Kiky sedang jenuh-jenuhnya. Perasaan yang berubah setelah sekian lama bersama. Ada baiknya, Eky menumbuhkan rasa pertama saat jatuh cinta dulu.
            Eky pamit, sepertinya dia mulai mengerti. Nara melanjutkan mengemasi barang-barang yang akan dimasukkan gudang setelah terhenti karena kedatangan Eky. Angin dingin merasuk, entah dari kipas angin atau tiupan angin dari jendela kamar. Nara mengacuhkan tubuhnya yang kedinginan, sibuk mengemasi barang-barang yang seharusnya tak masuk ke gudang.
            Barang pemberian Eky, harusnya sudah dikembalikan Nara. Namun bunda Nara bilang, ‘Kalau dikembalikan, justru akan membuat Eky sakit hati’. Jadi Nara memutuskan untuk mengemasinya dan disimpan di gudang saja.
“Akhirnya selesai juga! Bersama segala gundah, semoga terkubur dan menumpuk di gudang saja.” Biar lambat laun mengendap bersama tumpukan debu, laba-laba bersarang, terkubur dengan jaring-jaring tipis yang rapuh.
Menikmati suasana tenang yang lebih baik. Angin terasa lebih ramah menyapa. Saatnya mengikhlaskan semua yang terjadi antara Nara dan Eky. Cinta yang mengambang entah ke mana ini, tak sepantasnya dilanjutkan. Ada Kiky yang lebih membutuhkan Eky. Jadi cinta itu hanya masalah siapa yang butuh dan membutuhkan.
“Mungkin demikian,” Nara mencoba memahami, “Kalau cinta itu kebutuhan, padahal semua orang butuh cinta, termasuk aku. Mungkin, cinta itu ada karena kesungguhan. Kiky ─ aku tak meragukan kesungguhannya mencintai Eky. Jadi, dia lebih pantas daripada aku yang masih meragu.”
***

            Awan hitam pekat. Langit tepat beranda rumah, mendung, tak secerah langit Utara. Namun hanya gerimis kecil yang nampak. Nara meratapi syahdunya gerimis dan kegundahan hati. Hujan itu dapat mengobati suasana hati atau justru menambah luka di hati. Tergantung suasana hati, merasakan turunnya rintik demi rintik dari dahan dan ranting pohon di samping rumah. Menatap dengan penuh kelembutan yang dibalas dengan tetesan dingin menyentil kulit wajah. Lembut namun dingin. Walau hanya setetes, dinginnya merebak dan merasuk ke hati.
            Melanjutkan langkah yang terhenti karena masalah cinta. Jika Eky tetap dengan komitmen cintanya pada Kiky, Nara mencoba memahami kepergian Eky yang sempat dia ratapi. Entah mengapa rasa kehilangan membuat suram hati. Apa mungkin cinta?! Nara masih mempertanyakan cintanya. Sementara Eky memenuhi janjinya untuk bertahan dengan Kiky, dengan semua permasalahan yang ada.
***

            Hujan tak pernah permisi kapan datangnya. Sewaktu-waktu cuaca dapat berubah, panas menyengat bisa berubah menjadi hujan yang mengisi rongga antara langit dan bumi. Melewati lorong gelap. Berteduh di terowongan dari hujan di luar. Berdiri di pinggir terowongan, melihat dua sisi separuh lingkaran. Hujan turun meniupkan angin bersama cipratan tanah. Bau tanah basah, yang seharian tersorot sinar mentari panas. Terlihat tanah dan jalanan aspal mengeluarkan asap bercampur debu, sebelum semuanya rata dengan air hujan.
            Harus tertahan di terowongan yang di atasnya melintas roda empat menderu mesin berlomba dengan suara hujan. Nara menghabiskan waktunya untuk berteduh, memutuskan untuk kembali. Tak jadi membeli kue brownis kesukaannya. Sampai di rumah, gerimis rintik-rintik, Nara melihat Eky berlalu dengan motornya. Eky mencari Nara.
Nara mencoba melaju lambat, menunggu Eky pergi jauh dari rumahnya. Hanya melihat sosok Kiky pada diri Eky, semakin membuat Nara merasa bersalah.
 “Jika kita mempunyai perasaan yang sama pun, kita tak bisa kembali dekat seperti dulu. Kamu telah bersama dia. Walau aku tahu saat itu kamu tak ingin benar-benar berpisah denganku ─ mungkin...” Tak tahu pasti bagaimana perasaan Nara pada Eky. Nara juga tak ingin memastikannya ─ pada orang yang telah bersama orang lain.
***

            Serbuan air yang datang dari langit tak mampu terbendung. Lautan mendung tak mampu membendungnya hingga air tumpah ruah ke bumi. Kampus terlihat samar karena lebatnya hujan turun. Mencoba melangkah keluar, sudah pasti akan basah. Nara melihat Eky menerjang hujan bersama Kiky. Memayungi kekasihnya itu dengan jaket, melindunginya dari derasnya hujan. Nara hanya bisa berdiam diri di koridor gedung. Lampu mati, hanya terlihat bayang-bayang suram menghuni kelas.
            Semuanya tampak gelap. Saat-saat seperti ini, akan terlintas kesalahan-kesalahan dan hal bodoh yang pernah dilakukan. Penyesalan pada masa lalu. Waktu yang tepat untuk menyalahkan diri sendiri. Itu yang Nara pikirkan. Memikirkan bagaimana waktu terlintas sia-sia. Waktu terbuang percuma karena ketakutan tak beralasan pada masa depan.
            Betapa dia telah membuat kenangan dalam kehidupan Nara, yang selalu mengusik perlahan. Yang tak bisa dibedakan antara kenangan manis atau kenangan pahit.
“Sebentar saja aku mengenalmu, secepat itu engkau pergi.” Perasaan yang sekarang baru terasa setelah kepergian Eky.
            Salah Nara mengacuhkan cinta. Yang tak disadari Nara, cinta itu akan luntur karena waktu. Tak Nara kira, Eky akan mengacuhkannya secepat ini.
“Aku telah kehilangan sosok yang kukira akan bertahan walau beribu acuh dariku. Kamu membuatku menyesal karena tak mempedulikanmu saat itu,” tegas Nara di depan cermin, “Itu salahku atau salahmu? Salahku karena mengacuhkanmu. Atau salahmu, karena ternyata kamu tak benar-benar mencintaiku.”
            Dan sebelum Nara tenggelam, dia segera berlari ke tepi. “Aku tersudut pada perasaan ini. Karena tak ada kejelasan dariku sendiri. Aku anggap kita memang tak jodoh.”
***

            Malam hari, hati dan pikiran memang banyak terkuras. Teringat peristiwa saat hujan yang sangat syahdu membanjiri kampus hari kamis lalu. Tiga hari terlewat, namun masih saja terpaksa untuk mengingatnya. Seandainya satu hari itu bisa dihapus dari memori otak jangka panjang. Peristiwa itu sudah terlanjur terekam nyata dan tersimpan jelas tanpa harus direka ulang. Terpatri dalam jangka panjang, yang sewaktu-waktu bisa muncul dengan sendirinya tanpa harus mengingatnya.
Senang melihat teman melabuhkan dan menjatuhkan pilihannya. Memang masa depan tak pernah terduga. Dan yang perlu dimengerti cukup perasaan Nara, untuk merelakan. Kesungguhan itu belum juga didapatkan. Sesekali merenung, menatap wajah sendiri. Jarang sekali Nara seperti ini.
“Aku cantik, nggak bodoh juga, standar. Nyebelin sih, tapi nggak terlalu. Ah, sepertinya tak ada yang salah dari diriku. Tapi...” perkataannya terhenti, “Tapi... mengapa seperti ini?! Apa aku tak bisa mendapatkan kesungguhan itu?!”
“Belum...” Kire tiba-tiba muncul di cermin. Berdiri di belakang Nara, “Belum saatnya aja Ra! Tenang bukan hanya kamu yang merasa seperti itu. Lihat! Cewek cantik tapi gendut, mleber kayak gini. Syukuri saja. Kelak pasti ada yang mau.”
“Mau apa Re?” Nara menoleh, matanya berkaca-kaca. celotehan Kire meredakan gundah. Kire hanya membalasnya dengan senyuman.
“Kamu itu lho, punya segudang kelebihan. Cuma...”
“Cuma apa Re??”
“Cuma tertutup sama beton,” Kire tertawa puas
“Yaah, ketutup dong, susah dilihatnya, sama saja nggak ada yang bisa ditunjukkan!” Nara memeluk tubuh gembil Kire.
***

            Butuh hiburan, pencerahan. Butuh suplemen untuk hati agar bisa bangkit kembali. Menjalani aktivitas yang akan segera Nara awali. Sebelum siang hari dan semua terlambat untuk dibenahi. Kalau hati sudah tak nyaman, rasanya sulit untuk mengawali hari.
            Nara bergegas menuju kolam ikan yang teduh karena pohon jeruk bali yang tumbuh di samping kolam. Melamun di pinggir kolam dan memandang kosong ke kolam. Sesekali kepala Nara menengadah. Reruntuhan daun jeruk menerpa wajah, turun perlahan. Jatuh terhempas angin, berguguran lalu terapung di air kolam. Ikan-ikan terhentak, kaget. Nara yang sedang melamun turut kaget, membuyarkan tatapan mata kosong. Sadar, melihat daun serupa hati.
            Masih bisa tersenyum dan tak merasakan kehilangan. Itu mengapa tak seharusnya terbawa perasaan.  Dan cinta Nara memang bukan dengan Eky. Cinta itu tak pernah tersampaikan. Seperti bui, menghilang tanpa ada jejak. Ternyata hanya rasa takut kehilangan seseorang yang biasa dekat, kini harus jauh. Bukan cinta.
            Kita memang tak bisa memilih dengan siapa kita mau. Kadang dia yang mencintai, kita tak mengharapkannya. Kadang kita yang mencintai, dia tak menyambutnya. Sederhana tanda tak berjodoh.
Bisa saja kita salah mengartikan. Kita tak akan pernah tahu di mana ujungnya, semua akan terhenti saat masing-masing menyadari ─ tak berjodoh. Itu hanya masalah waktu.
“Sedikasihnya aja,” kata Nara, pasrah.

Nara belajar banyak arti cinta dari Kire. “Jika sudah saatnya pasti akan dimudahkan,” senyum terakhir Nara pada libur akhir pekan. Esok, biar tak ada lagi kegalauan. Biarlah mengendap, tak perlu diusik lagi. Hanya menunggu waktu berlalu, siapkan untuk kebingungan lain yang menanti di depan.

01:00 Waktu Tak Mempertemukan


            Jam dinding yang tak pernah tepat. Empat jam dinding dan arloji yang Nara kenakan tak pernah menunjukkan waktu sebenarnya. Sengaja waktu diajukan lebih cepat sepuluh hingga lima belas menit. Nara memperhatikan Kire yang terus-menerus menatap jam di tangannya dan jam besar yang menggantung di dinding.
“Kata bunda agar kita sekeluarga tak bisa bermalas-malasan Re,” celetuk Nara sambil merapikan buku yang berserakan di ruang tengah. Alasannya, jika waktu diajukan lebih cepat maka semua kegiatan akan maju dengan sendirinya, walau harus tertipu waktu.
“Bukan aku yang mengejar waktu. Karena waktu tak akan terkejar. Aku dan waktu tak pernah jalan bersamaan, apalagi untuk mengejarnya,” gumam Nara yang serba mepet melakukan sesuatu.
“Ah, kurang lima belas menit lagi,” pikir Nara tak peduli.
            Jam berdentang setiap pergantian jam. Nara tahu, waktu belum saatnya menunjukkan apa yang ditunjuk jarum jam. Nara acuh, berlalu begitu saja. Jarum jam tanpa kompromi menghampiri angka-angka yang setia menunggu.
“Ra, lihat ini sudah jam berapa?!” Kire yang sejak tadi menunggu Nara untuk berangkat kuliah bersama tak sabar menanti.
“Iya, sebentar Re!” Kire mondar-mandir mengikuti Nara ke kamar.
            Kire tak tahu jam di kamar juga telah menipunya. Jam di kamar justru sengaja dilebihkan dua puluh menit lebih cepat dari waktu seharusnya. Nara yang mengetahui kelicikan jam dinding yang diajukan lebih cepat memilih untuk mengacuhkannya. Itu mengapa Nara tetap saja terlambat meskipun waktu telah berlalu. Nara sedang malas datang terlalu awal pada kuliah kali ini.
            Sampai di parkiran gedung. Jalan cepat. Mentari sedang dalam perjalanannya merajai bumi. Nara dan Kire berlari menghidari panas. Menerabas rerumputan dan mencari bayangan hitam untuk sekadar bersembunyi dari sengatan matahari.
“Ayo Re, lari!!”
“Gara-gara kamu nih! Udah panas gini baru berangkat,” kata Kire terbata-bata sambil berlari.
***

            Materi kuliah masih melanjutkan problematika minggu lalu. Nara harus menghadapi dosen dengan pertanyaan yang belum terjawab, ayam yang produktivitas bertelurnya menurun saat lebaran dan tahun baru. Pertanyaan bersambung setelah pertemuan yang lalu tak ada satu pun mahasiswa yang bisa menjawab.
“Dunia ini keras mahasiswaku,” kata dosen unik ini, “Pertanyaan ringan seperti ini saja tak ada yang mampu menjawabnya. Bagaimana kalian bisa memecahkan masalah negara yang seperti benang kusut!”
            Tak heran jika kuliah pajak, mahasiswa selalu rajin datang lebih awal. Bukan karena antusias mengikuti kuliah. Itu semua karena ketakutan mahasiswanya diajar dosen pajak yang menohok hati itu. Rajin datang awal untuk secepat mungkin duduk di bangku deretan tengah. Strategi belajar yang nyaman untuk mengikuti kuliah pajak, agar tak sampai sakit hati di tengah kuliah. Kalau duduk di depan itu jadi sasaran empuk untuk diberondong pertanyaan yang tak ada hubungannya dengan masalah pajak. Nah untuk deretan belakang juga tak kalah dibuat tegang.

            Semua mahasiswa dari berbagai macam karakter, dalam sekejap menjadi mahasiswa yang manis-manis, pendiam, penurut, dan mau saja diputar-balikkan dengan segala pertanyaan yang membingungkan. Kalau sudah begini, mahasiswa takut untuk datang terlambat. Bahkan satu jam sebelum jam masuk kuliah, semuanya sudah duduk rapi di barisan ketiga dari depan. Tempat duduk di depan selalu tak laku. Dosen dan mahasiswanya tampak tak akrab.
“Sama sekali tak ada antusias-antusiasnya mahasiswa ini! Jauh sekali jaraknya,” Kacamata Pak Didit diturunkan, matanya membelalak melihat tingkah mahasiswanya.
Memang belum saatnya masuk. “Kurang 20 menit lagi,” Pak Didit keluar ruangan.
            Menegangkan duduk di depan, apalagi ketika mengikuti kuliah yang satu ini. Dan jangan pernah coba-coba datang terlambat. Sudah pasti menjadi jam-jaman dosen sepanjang kuliah berlangsung.
            Melalui waktu yang dibiarkan berlalu lebih cepat. Tahu namun tak terbawa sepuluh, lima belas menit yang terlanjur berlari mendahului. Nara tetap acuh membiarkan waktu memburu. Nara dan Kire masuk kelas terlambat. Bukan terlambat karena sudah waktunya masuk, namun terlambat karena posisi duduk ternyaman sudah penuh.
“Kalian baru datang!” kata Chika. Sahabat yang selalu diandalkan untuk mem-booking tempat duduk, tak sanggup memenuhi permintaan Nara dan Kire.
Teman yang lain terlanjur berdemo. “Nggak ada pesan-pesan tempat duduk, jika orangnya tak ada!” teriak lantang mereka.
“Kali ini kami harus lebih terjaga mengikuti perkuliahan selama satu setengah jam. Gara-gara lembur tugas semalam, harus berusaha setengah mati membelalak penuh konsentrasi. Bayangkan...” Bercerita penuh drama pada teman di belakang tempat duduk Nara. Berharap ada belas kasihan untuk tukar bangku.
‘Ah, sia-sia saja! Pak Didit sudah bertengger di depan pintu tuh,” tersenyum masam, Kire meledek Nara.
            Cukup menjadi lelucon teman sekelas gara-gara pertanyaan sepele namun sangat menguras pikiran dan rasa malu.
“Mengapa harga telur ayam mahal saat hari raya lebaran dan tahun baru?”
“Ehm, tidak tahu pak. Mungkin...”
“Kamu itu pertanyaan gampang. Belum dijawab sudah bilang tak tahu!” tindas pak Didit.
Jawaban yang tak terpikirkan, “Karena produktivitas ayam untuk menghasilkan telur berkurang. Tahu kenapa?!” terdiam, “Itu karena saat lebaran ayam-ayam terlalu shock mendengar suara terompet dan petasan bergemuruh.”
“Emang gitu ya Re?!” kata Nara dengan polosnya.
            Kire mengembangkan senyumnya di balik buku, “Ah kamu Re, bukannya membantu malah ikutan nyebelin!”
Dengan senyum terpaksa Nara melihat pak Didit keluar ruang kelas. Nara dan Kire langsung bergegas pulang, seisi kelas bersorak dan berceloteh tak perlu menganggapi kuliah pajak hari ini.
            Kuliah terakhir minggu ini begitu menyebalkan. Nara harus membawa suasana ini hingga akhir pekan, kesal dan penat. Bekal tugas dari awal minggu selalu menumpuk di akhir pekan. Harus segera diselesaikan sebelum kelabakan dan begadang semalam suntuk gara-gara tugas belum selesai.
            Harus membagi waktu dengan otak kanan yang selalu mengajak Nara bermain-main, nonton TV, mendengarkan musik, bernyanyi riang. Namun kali ini tak bisa dilakukan semuanya.
“Rasanya membagi rasa sakit dengan tugas kuliah yang menumpuk saja terlalu sulit.” Nara harus terbaring di kamar seharian karena tenggorokan gatalnya mendadak berevolusi menjadi flu.
***

            Meski tahu waktu berjalan terlalu cepat meninggalkan namun Nara tak terbawa kecepatan yang seperti memburu. Serasa ingin berlari dari waktu yang tak pernah tepat. Walau begitu Nara masih tetap menjalaninya, tak peduli lagi jam-jam penipu ini.
“Yang sesungguhnya, sebenar-benarnya waktu ada pada jam tangan di laci kamar bunda. Sudahlah tak sempat lagi mencocokkan waktu,” pikir Nara.
            Terus saja berjalan di putaran waktu ini. Tak ada yang tahu kapan waktu yang tepat, sebelum benar-benar melaluinya. Dan tak ada yang ingin berada dalam kesalahan untuk menginjakkan diri di waktu yang terus berputar. Hadir di waktu yang tak tepat, akan seperti ini yang terjadi... Rengga mencintai Nara, namun mereka tak pernah dipertemukan oleh waktu.
            Tetangga yang menjadi teman masa kecil Nara, kini semakin dekat dengan Nara. Nara sudah menganggapnya seperti saudara sendiri, melakukan semua bersama. Ketika Nara mengetahui Rengga memendam rasa padanya, Nara justru berbalik. Semakin lama Nara semakin membencinya. Semakin Rengga memedam perasaannya padanya, Nara semakin menjauh. Nara selalu acuh pada Rengga.
            Bagaimana bisa, partner panjat pohon, pegulat tangguh, dan pembidik gundu ini memendam perasaannya pada Nara, cewek dekil, cuek, ingusan, yang wajahnya dipenuhi arang hitam saat bermain bersama sewaktu dulu.
“Aku tak ingin membalas cinta Rengga,” tegas Nara.
            Nara teringat ucapan Rengga dulu, tempe itu dari pecahan ternit, tahu dari bongkahan genting. Cinta itu dari pecahan benci, sayang itu dari pecahan peduli. Entah apa maksudnya. Rengga selalu memberikan tiap pecahan ternit dan genting pada gadis-gadis cantik di kompleks rumah. Katanya tanda cinta, Rengga memang pandai menggombal di masanya. Jika mengingatnya, Rengga selalu berkata, “Mereka mau-maunya dikasih begituan! Beda sama sekarang, mau ngerayu cewek aja butuh modal yang nggak dikit.” Nara tenggelam dalam memori panjang masa kecilnya. Nara tertawa geli.
            Di bangku Sekolah Dasar, Rengga terlalu dini untuk jadi penggombal. Nara selalu tertawa terbahak-bahak mengingat hal konyol itu. Tak disangka kenangan itu, sekarang hanya menjadi ketakutan.
“Orang lain saja, jangan aku. Aku cukup melihatmu menjadi cowok tengil. Dan aku cukup menasihatimu dalam perjalanan cintamu.” Nara duduk termenung.
Melamun di beranda rumah. Sayup angin menyingkap buku diary yang Nara tulis. Waktu telah larut, Nara terbiasa tidur malam, menanti rasi bintang Auriga di bumi belahan Utara. Nara tak ingin melewatkan penampakan terbaik Auriga pada bulan Mei ini. Diam-diam Nara mengikat keinginannya yang kandas untuk menjadi ahli astronomi sewaktu kecil. Mengamati periode bulan dan rasi bintang, kebiasaan yang sering dilakukannya karena sering tidur sampai larut, lewat dari jam dua belas.
***

Senja, matahari mengintip samar untuk pamit di balik gedung-gedung bertingkat. Merangkak, menjejaki genting-genting cokelat di lantai dua atap rumah. Semua perasaan tertumpah. Rengga membuka isi hati yang selama ini tersimpan rapi. Yang Nara tahu, Rengga hanya sahabatnya. Kini Nara harus tahu perhatian Rengga yang ternyata lebih dari perhatian seorang sahabat.
“Woii, bengong aja kamu Ngga!”
“Apaan sih Ra?”
“Kamu yang apaan! Ngelamunin apa sih?”
“Lagi ngelamunin kamu nih...”
“Plis deh!” Nara tak pernah melihat pandangan yang seperti ini. Risih melihat Rengga menatap penuh makna.
“Bukan, ini bukan tatapan mata seorang sahabat! Ini tatapan seseorang yang berharap orang yang ditatapnya mengetahui perasaan yang dipendam sudah lama.” Tatapan mata seperti tatapan kekaguman dan rasa sayang.
“Aku pernah melihatnya. Ya, tatapan lelaki di restoran ujung rumah. Tatapan matanya pada Kire. Lelaki yang tak jelas itu, yang mengincar Kire sejak lama, ya aku tahu pasti!” Kepanikan Nara terlihat dari caranya menatap tak tentu arah.
“Nggak! Nggak mungkin!!” Nara berteriak membanting boneka kelinci yang digenggamnya.
“Ra, sadar! Kamu kenapa?” Rengga memukul Nara dengan boneka itu.
            Nara beranjak pergi. Mengalihkan semua kebenaran yang akan didengarnya.
“Aku takut. Lebih baik menghindar,” gumam Nara sambil menuruni atap genting.
“Aku ke kamar kecil dulu ya Ngga.”
“Kamu itu...” sambil menggelengkan kepala, Rengga terheran-heran.
            Sekembalinya dari mengulur waktu, Rengga masih juga memaksakan diri mengatakannya.
“Aku mencintaimu,” ucap Rengga bersamaan dengan suara truk yang melintas. Nara tak bisa menghindari percakapan.
“Apa Ngga?!” Nara berpura tak mendengar. Truk yang melintas dijadikan kambing hitam. Nara tak ingin mendengarnya.
            Sesuatu yang tak dapat berubah dari hubungan mereka. Sahabat, mereka terbiasa dengan kata itu. Sangat sulit untuk mengubah suatu kebiasaan. Ketika alur sudah terbuat, lalu harus merubahnya. Akan ada kekacauan setelah ini karena Nara yang terlalu memaksakan diri untuk tak menyakiti Rengga, sahabatnya.
***
            Bulan purnama telah lewat. Bulan nampak seperti tandan tua dari bawah. Sebentar lagi bulan tak akan terlihat sampai batas bulan baru. Seperti Nara yang enggan menampakkan diri. Terselimuti perasaan mengambang, serba tak pasti. Sedikit datar, tak ada kejutan. Hanya kekagetan luar biasa setelah perasaan terkuak. Perasaan yang terbebani oleh sahabat sendiri.
“Ra, sombong...”
“Apa Ngga?” Nara tersenyum
“Akhir-akhir ini ke mana? Susah banget ditemui.”
“Aku di rumah Ngga.”
“Iya, kenapa enggak nemuin aku. Kemarin kan aku ke rumahmu.”
“Owh, iya ya...”
“Iya, kamu sibuk?”
“Iya nih, lagi nyari buku buat tugas kuliah. Bukunya langka, jadi susah nemu,” Nara menyibukkan diri, tak berani menatap wajah Rengga.
            Nara selalu tak nyaman semenjak Rengga menyatakan perasaannya padanya. Nara selalu menghindari Rengga setiap ada kesempatan bertemu. Balasan senyum setelah pernyataan cinta itu membuat Rengga penasaran dengan respon Nara terhadapnya.
“Senyum masamku juga tak mampu menjelaskan bahwa aku tak lebih hanya menganggapnya sebagai sahabat. Memang senyum yang singkat. Dia memang tak pernah peka bahasa tubuh!”
            Nara selalu ingin bisa mengerti sahabatnya. Jika Rengga diam, itu berarti dia sedang marah atau sedang sakit. Jika sedang sakit, Rengga selalu menyembunyikannya di kedua tangkupan giginya, sambil meringis kecil. Jika marah, Rengga juga akan melakukan hal yang sama, ditambah dengan mengepalkan tangannya erat-erat. Cara dia menahan marah.
            Dulu, saat Rengga marah, tak sengaja dorongan tangannya membuat Nara tertabrak sepeda dan gerobag burung yang melintas di depan rumah. Kotoran burung yang kering bertaburan ke seluruh tubuh Nara. Sejak saat itu, Rengga selalu diam jika marah pada Nara. Namun kali ini, untuk mengerti Rengga, Nara harus mengorbankan perasaannya. Mencoba bersikap seolah satu rasa padanya, hanya untuk menyenangkannya dan tak ingin membuat Rengga kecewa.
***



            Nara dan Kire duduk bersama membahas tugas kelompok usaha bisnisnya. Seperti biasa, Rengga datang untuk mengganggu.
“Kamu nggak kuliah Ngga?” tanya Kire.
“Udah pulang kok,” Beruntung hanya teman masa kecil, SD, SMP, SMA. Nara lebih tenang, kegiatan kuliahnya tak terusik keberadaan Rengga.
“Untung kamu nggak satu kampus sama aku ya Ngga, kalau enggak kan bosen banget bareng terus,” gumam Nara.
“Apa? Tadi kamu ngomong apa Ra?!” tanya Rengga memperhatikan Nara.
“Eeenggak kok, nggak apa-apa!” Nara menunduk.
            Nara sengaja menghindari percakapan dengan Rengga. Mata selalu beralih jika Rengga menatapnya. Nara mencoba mengusik Rengga pergi, agar dia bisa bicara leluasa pada Kire mengenai perasaannya. Rengga tak juga pergi padahal Nara sudah memaksanya minum jus jeruk buatannya yang sangat masam. “Ngga, kamu nggak mau ke kamar mandi?”
“Enggak. Kenapa emang?” Nara tersenyum masam. Nara mengalah, memberi kode pada Kire. Mereka beranjak dari  ruang tamu.
“Re, bantu aku menjelaskan semua...” Nara bingung harus bagaimana.
“Aduh Ra, aku juga bingung. Hak dia untuk mencintai orang lain kan?”
“Iya juga sih. Tapi kenapa harus gue!!” Nara kesal.
“Cinta mana bisa milih!” lagi-lagi Kire justru membuat Nara semakin bingung.
“Kamu kan pernah terang-terangan menolak lelaki bujang di ujung sana Re!”
“Jangan bercanda kamu Ra.. Ini kasusnya berbeda.”
“Sama saja kok.. Tolong dibantu ya, ya Re... pliss!”
            Tidak akan kelar sebelum semua dijelaskan sejelas-jelasnya. Rengga tak memahami bahasa tubuh. Tak mengerti kalimat yang berbelit-belit. Dan jelas tak memahami maksud Nara yang tak ingin menyakitinya.
Maju, mundur, mundur lagi. “Jangan hari ini Re!”
“Kenapa Ra?”
“Lihat wajahnya. Dia belum siap,” bisik Nara.
“Yeee, emang dari dulu wajahnya gitu. Kamu yang belum siap Ra, bukan dia,” Kire melirik Nara.
“Besok aja deh. Aku takut dia salah menerima.”
“Bisa jadi dia pikir aku juga mencintainya. Enggak, aku takut menyakitinya, dan akhirnya tak tega. Jadi salah paham nantinya!”
“Terserah kamu deh Ra.”
            Semuanya salah. Sejak tadi Rengga mendengarkan pembicaraan Nara dan Kire. Nara pikir dia tak tahu. Ternyata dia lebih paham suara bisikan, daripada harus dijelaskan detail. Dari tadi Rengga diam, ternyata dia mencerna kebisingan suara Nara dan Kire yang berbisik, terdengar jelas. Rengga berbalik badan dan berjalan ke luar melewati Nara dan Kire. Tanpa menyapa mereka dan berlalu.
***

            Mentari lewat 90º, hawa musim kemarau semakin menjadi-jadi. Liburan yang menguras keringat. Hanya duduk di teras rumah, untaian peluh menuruni helaian rambut. Rasanya beribu kali perasaan seperti ini muncul. Nara menghabiskan siangnya, memikirkan cinta yang mengambang, terombang-ambing. Perasaan tak menentu karena cinta yang tak termiliki.
            Sepanjang hari ini Rengga belum juga terlihat. Biasanya pagi-pagi dia sudah mengajak Nara bermain sepeda di taman kota.
“Terik begini, Rengga kok belum kelihatan..” Tak lama kemudian, Kire dan Chika datang dengan mobil putih kucing berpita pink, Hello Kitty-nya. Hanya bunyi klakson yang menyapa.
“Apaan sih Re? Kenapa enggak turun?”
“Ayo!” teriak Chika, mulutnya lebar menganga.
“Ayo ke mana?”
“Kita kan mau nonton pensi!” Mulut Kire manyun. Harus berapa lama lagi menunggu Nara bersiap-siap.
“Sekarang?! Tunggu!!” teriak Nara.
            Nara lupa, hari ini dia janji untuk nonton bazar dan pentas seni SMA bersama Kire. Meski tak muda lagi, wajah mereka masih pantas disebut anak sekolah, meringkup bersama ABG-ABG dalam masa pubertas. Tak mengingat lagi betapa sudah mature-nya mereka, dewasa yang menua.
            Pensi kali ini, di tempat sekolah Nara dulu, guest star nya Sheila On 7, band favorit Nara, Rengga, Chika, dan Kire. Menunggu nanti malam sambil mengunjungi bazar, Nara dan Kire bertemu teman-teman satu angkatannya.
“Sayang, Rengga nggak ada. Dia kan ngefans banget sama SO7.”
“Iya padahal tadi udah kayak artis aja kamu Ra, diajak foto bareng. Coba deh cari di alamat fanspage di sticker tadi, pasti ada tuh fotomu.” Nara menghiraukan celotehan Kire yang tak nyambung.


“Iya, dia ngilang ke mana ya Ra? Ah, dia pasti datang. Cuma nggak ngajak kita aja,” celetuk Chika. Nara sedikit cemas dengan keadaan Rengga. Rengga butuh waktu untuk sendiri.
***

00 : 00 : 00
            Malam hari menjelang pagi, usai pulang dari pensi, sudah menjadi kebiasaan berkumpulnya semua perasaan selama sehari penuh. Senang, sedih, jenuh, semuanya menumpuk di penghujung pergantian hari. Kalau sudah begini, hari esok rasanya akan terbebani dengan konflik hati. Meraih diary hitam curahan hati Nara, rasanya sedikit terobati. Dalam sekejap, tak butuh waktu lama untuk tertidur pulas. Pena tergeletak di jemari Nara yang masih menggenggam.
            Alarm berbunyi, belum sampai tiga jam berlalu. Setengah sadar berjalan ke kamar mandi. Sadar bahwa tak ada kuasa atas tubuh dan kehidupan ini.
Di mana sebaik-baiknya sandaran, tempat berkeluh kesah, tempat kembali dan berserah diri hanya kepada-Nya. Nara membasuh wajahnya, terbalut dengan kedinginan.
“Jika kebingungan ini membuatku dewasa, membuatku menjadi kuat, maka berikanlah hamba-Mu kesabaran untuk melewatinya. Berilah petunjuk atas segala yang terjadi. Semoga Engkau memberikan yang terbaik,” doa Nara.
            Ini mengenai prinsip, prinsip hidup yang dibangun sekian lama. Itu mengapa menjadi tak mudah untuk diputuskan. Dengan segala prinsip yang Nara punya, dengan segala keterbatasan ilmu dan kepolosan, saat itu 17 tahun. Saat duduk di bangku sekolah mengengah, Nara mengikrarkan diri untuk selalu menjaga hatinya. Bagi Nara hidup sekali, mati pun hanya sekali, jatuh cinta juga sekali. Tak seperti kawan-kawan lain yang berkali-kali pacaran.
“Aku menginginkan kekasih pertama dan terakhir untukku.”
            Dan setiap niat akan memberikan jalannya sendiri. Usaha Nara, sebagaimana normalnya wanita yang menyukai lawan jenis, tak semudah itu dijalani. Jika memang belum waktunya, inilah yang akan terjadi. Terbayang kisah lalu yang mengiris hati. Terkadang jika Nara mengingatnya rasanya ingin mengasihani diri sendiri.
Cinta bertepuk sebelah tangan, bisa jadi lelaki itu sudah punya pacar, bisa jadi dia tak menyukaimu, atau telah ada pengisi di hatinya.
Cinta tak sampai, bisa jadi kamu mencintai orang yang jauh, sama sekali tak mengenal kamu. Bisa jadi kamu tak dekat namun memaksakan dia mencintaimu.
Cinta yang lain, bisa jadi ada orang yang mencintaimu namun kamu lebih cenderung memilih orang lain. Kisah seperti ini yang sering Nara rasakan.
“Apa pun itu, aku mengartikan memang belum saatnya. Entahlah, aku hanya bisa mengartikan dengan keterbatasanku.”
Bisa dibilang ini kedangkalan cinta. Bukan, salah! Ini sama sekali bukan cinta. Cinta tak pernah mengenal kata dangkal. Berkali-kali tertarik, namun sekalinya sudah dekat Nara memutuskan untuk menjauh. Kedalaman hati yang tak bisa mengerti, memahami bahwa cinta itu sesuatu yang berbeda. Yang tak mudah hilang dan tak tergantikan, “Mungkin itu cinta!” Nara tersenyum seperti orang mengigau. Dia melanjutkan mimpinya lagi.


            Belum saatnya. Kali ini karena Nara memang tak menyukai Rengga. Nara dan Rengga sudah seperti saudara, kecil bersama. Kenangan terbaik bersamanya, ya hanya waktu kecil. Usia yang membuat semua harus ada batasannya. Nara mulai malu-malu jika bertemu dengannya. Dia yang suaranya mendadak menggema, tak lagi senyaring dulu. Bentuk kesombongan atau bukan, yang pasti Nara tak pernah bisa seakur dulu. Terbiasa menghindari Rengga lebih sering dilakukan Nara.
“Aku memang berharap akan menemukan seseorang yang sama-sama saling mencintai. Cinta yang tak akan pernah hilang karena waktu,” pikir Nara. Sambil melewati daun berguguran di tepi kolam, lamunan membawa Nara ke dunia khayalnya.
            Sejak dulu, tak dipungkiri Nara memang berharap seperti perempuan-perempuan lain yang telah punya teman dekat. Biasa orang sebut pacar. Belajar sambil mencari lelaki yang menyukai dan disukainya. Saling menjalin cinta di kampus tercinta.
            Sampai Nara pernah menyalahkan diri sendiri karena tak bisa seperti yang lain. Mengapa sampai sekarang belum juga bisa punya pacar dan segudang pertanyaan yang justru membuat Nara merasa sendiri. Merasa tak pantas. Memang belum saatnya, namun terkadang Nara memaksakan diri untuk semua itu. Dalam permasalahan cinta itu munculah dewi-dewi penolong. Kire dan Chika datang untuk mengingatkan prinsip itu. Sahabat yang seperti alarm, seperti penasihat hidup, seperti ibu peri.
            Perjalanan hidup, baik dan buruk, yang kadang sejalan dengan keinginan dan yang terkadang bertentangan, sesuatu yang menjadi bagian dari kisah hidup Nara. Cuilan dari perjalanan waktu Kinara Larasti. Dia mengakhiri lamunannya dengan senyum. Terjangan dedaunan menyadarkan diri, waktu sudah terlalu pijar untuk bermalas-malasan. Dia beranjak menuju kamar mandi.
vddc

Tunjuklah bintang yang kauharap. Jangan berharap pada bintang jatuh.
Taruh harapanmu pada bintang yang bersinar terang. Aku akan berada di sana.


Kertas kecil yang menempel di daun, ditemukan Nara di kamarnya usai mandi.
“Mungkin dari Rengga,” pikir Nara.
Nara berlari keluar, dia tahu di mana tempat daun itu ada. Di taman kota, mungkin bukan satu-satunya ada di sana. Namun tiap sore, Rengga selalu ke sana, bersepeda.
            Sore hari, Nara bergegas menuju taman. Memastikan keadaan Rengga yang menghilang akhir-akhir ini. Pas sekali, Rengga sedang duduk di bangku taman. Nara menyebelahi Rengga.
“Berlari ke mana pun, setiap yang telah terpahat diingatan akan terus hadir, sekali pun dalam diam.” Rengga tak berpaling dari dalamnya tatapan. Melihat lurus, entah ke mana. Mengacuhkan Nara, walau telinga terus memperhatikan apa yang terucap.
            “Kebaikan seseorang bisa dipertimbangkan, pengorbanan yang ditunjukkan, bisa dijadikan alasan seseorang untuk membalasnya. Namun tidak dengan cinta,” sambil mengayunkan tangan Rengga, “...tak bisa ditimbang, yang harus sama dengan ukuran. Bukan berarti yang kauberikan harus dibalas dengan cinta. Karena cinta tak bisa dengan kata harus, cinta itu tulus, tak bisa dipaksakan.”
“Aku akan pergi,” hanya itu ucap Rengga.
“Pergi, maksud kamu Ngga?!”
Hanya balasan senyum yang Nara terima. Sama tak mengertinya, Rengga pasti tak mengerti ucapan Nara, dan Nara hanya bisa bingung mengartikan senyuman Rengga. Rengga meninggalkan Nara bersama daun kering yang berguguran sore itu.
            Sore dengan jingga yang menyayat. Nara ingin pergi bersama Rengga, namun Rengga menginginkan jalannya sendiri. Kehilangan teman kecilnya. Nara hampir tak percaya akan adanya ketulusan, persahabatan.
“Jika telah sendiri-sendiri, mungkin kita akan terlupakan,” pikir Nara, “Jika kamu pikir sia-sia, tinggal kamu hitung detik demi detik terlalui, dan berhentilah mencari.”



            Nara memutuskan untuk tak mencari Rengga, walau hatinya terus gusar.
“Suka-suka dia. Jika dia pikir aku akan mencarinya, Rengga salah besar. Biarlah dia yang akan mencari.” Raut wajah sendu terlihat, seakan rela namun tak rela.
            Cinta itu tak dipertemukan waktu. Walau sama-sama berjalan, tujuan yang diyakini Nara dan Rengga berbeda. Mereka akan menemukan cinta lain di waktu yang lain, dan mungkin dengan orang lain.

Sepenggal


    Penantian itu akan sampai pada waktunya. Dari ujung ke ujung penantian yang semakin membuat Nara mengerti. Dan akhirnya harus terhenti pada titik balik dari semua pencarian dan penantian.
            Pertemuan yang menyita waktu dan membuat Nara paham bahwa yang terjadi akan tertelan sang waktu. Hanya yang beruntung yang dapat mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Yang lain bukan tak berarti apa-apa. Namun sesuatu yang paling berarti dan memberikan makna, adalah kesan yang memberikan banyak pesan kehidupan.
            Cahaya mentari tak menembus tirai jendela, namun radiasi panas memancar membuat gatal seluruh tubuh. Nara terusik dari tidur lelahnya. Kebiasaan menempel di tembok. Nara selalu melakukannya jika kepanasan.
“Ra, sudah jam berapa ini? Ayo bangun.”
“Iya bunda, sebentar.”
“Anak perawan kok malas-malasan. Awas kalau AC nya dinyalain!”
“Yaah bunda, tau aja. Kepanasan ni...”
“Bangun dong, mandi biar segar!”
“Iya,” sahut Nara masih dengan mata terpejam.
            Pulang dari kemah, membuat Nara tak enak badan. Apalagi harus begadang dan diterpa dingin angin malam. Nara mendampingi pelantikan anggota pramuka di sekolah menengahnya dulu. Kemah, jalan-jalan malam dan penobatan pramuka inti, menyisakan pegal dan lelehan ingus dari hidung merahnya.
Teman, bukan dia yang selalu membawa kebahagian untukmu. Namun dia yang bisa memberikan hikmah dan pelajaran dari setiap perjalanan hidup.
“Dan akhirnya dalam segala kesakitan ini, aku mengucapkan banyak terimakasih pada seseorang yang bernama Awan. Terimakasih, darimu telah kutemukan makna hidup. Memang semuanya telah menjadi suratan-Nya. Tak kusesali telah berjumpa denganmu. Kamu yang terbaik dan tetap akan jadi yang terbaik.”
Duduk setengah sadar. Nara menyemangati dirinya sendiri yang tengah rapuh.
Nara mengalami pengurusan yang luar biasa setelah 5 kg berat badannya luruh entah ke mana. Masalah yang tak kunjung usai, mulai dari cinta yang seperti membelenggu, setelah mati-matian menyelesaikan skripsinya, dan harus mematahkan cintanya sendiri. Belum lagi status sebagai pengangguran yang disandangnya setelah dinyatakan lulus. Dengan segala semangat yang terserak entah ke mana, senyum Nara masih manis seperti biasanya. Senyum yang bahkan lebih manis meski pipinya tak lagi terlihat berisi seperti bakpao mengembang.
Kamu ada karena sepi, dan hilang karena sepi.
Aku menemukanmu pada belahan waktu yang terus berjalan.
Dalam kesunyian ini, kehadiranmu menyeka dan seolah menghentikan waktu. Menatap walau sekejap, aku terbawa pada lingkaran waktu hidupmu.

Nara mencoba menjalani semua dengan keyakinan yang ada, tak peduli lagi apa kata dia ‘Awan’ tentang cinta, mengenai keyakinannya. Semua akan kembali pada apa yang kita pikirkan, dengan segala risiko. Inilah pilihan hidup...

Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depan. Hanya bisa menjalani, karena waktu pun terus berlari. Detik berganti menit, menit bergulir, perjalanan waktu yang tak bisa dihentikan. Jarum paling pendek bergerak lambat, namun pergeserannya sangat menakutkan untuk ditaklukan. Kita akan beradu dengan waktu.
Pilihan hati, bukan berarti takdir yang mempersatukan. Kadang hanya terjebak urusan hati yang tak seharusnya dituruti. Karena jika sudah mengakar untuk mencabutnya saja harus berpeluh-keluh.
Bagaimana kita bangkit dari keterpurukan, bagaimana kita menata dari awal, bagaimana kita menatap ke depan yang sebenarnya sama-sama kita tahu tak ada kejelasan dari apa yang belum kita jalani. Namun kita tetap meyakini, kita akan mampu menghadapi. Ya, ini yang Nara rasakan.
Dulu, setengah mati aku mencinta. Sekarang, setengah mati aku membenci.
Dan nanti, setengah mati pula aku merindu.(Nara)




            Nara kembali dengan perasaan yang tak utuh lagi. Mencoba mengembalikan lagi, utuh sebelum mengenal Awan. Namun justru ini yang terjadi... Memaksakan justru menyakiti dirinya sendiri. Akhirnya Nara akan tetap seperti ini, dengan segala luka menjalani hidup.
Aku menunggumu untuk lapisan waktu yang terbalut rindu.
Kembalilah jika takdir menuntunmu demikian. Aku akan merangkak kembali, berlatih untuk berdiri tegak, berjalan, dan bahkan berlari untuk cinta yang rapuh ─ oleh waktu.
            Melepas ─ bukan! Ini bukan seperti mengikhlaskan. Karena memang yang seharusnya seperti ini, berpisah.
“Aku dan Awan belum seharusnya bersatu dalam perjuangan yang akan lebih berat ke depannya. Kehidupan yang sesungguhnya, baru dimulai.” Dengan segala baik dan buruknya, mereka berpisah.

Jika waktu mengizinkan waktumu dan waktuku bertemu, berjumpa denganku,
aku akan sangat bahagia. Sekali pun hanya sempat tersenyum.
Kamu akan menemukan ketulusan ini,  meski kau menghiraukannya.
Aku akan bertahan.
Sampai jumpa lagi di perjalanan waktu yang mungkin akan mempertemukan lagi.

           
            Celotehan yang sempat Nara tuliskan lewat tinta silver pada diary warna hitamnya, sebelum membuka halaman baru dalam hidupnya. Tulisan yang akan menjadi pengingat, ada yang pernah mengisi, hingga tertulis cerita di sini. Ada janji yang akan mengingatkan, mengenai keteguhan penantian. Walau hanya harapan yang akan disambut takdir atau hanya akan terkikis takdir. Sekali lagi ini mengenai keyakinan. Waktu yang akan jadi hakim, penentu apa yang akan terjadi.
“Ketika semua berawal dari waktu dan berakhir karena waktu. Ketika semua ada masanya dan hilang karena saatnya.”
Untuk dia yang mengajariku menghafal jalan ─ jalan pulang ke hatimu.


Tuesday, January 29, 2013

Jatuh Cinta dan Patah Hati itu Sama


Jatuh cinta dan patah hati itu sama seperti ketika kita melihat bintang.
Ketika kamu jatuh cinta, kamu akan melihat dan menunjuk salah satu bintang yang paling terang.
Dan kamu akan merasa bahwa bintang yang bersinar itu seperti orang yang kamu cinta.
Ketika kamu patah hati, kamu juga akan melihat bintang yang paling terang
Dan kamu akan merasa tak cukup mampu menggapainya, karena dia terlalu jauh.

            Ini juga gue alami saat gue menanti cinta. Cinta yang enggak sama sekali gue tahu siapa dia. Tak terdefinisikan siapa dia. Bukan seperti orang jatuh cinta yang sudah pasti objeknya. Gue jatuh cinta sama ‘dia’. Di sini objeknya adalah ‘dia’. Yang terjadi pada gue adalah gue sedang menanti kata kerjanya. Jatuh cinta. Gue menunggu kapan saatnya bisa jatuh cinta dengan orang yang tepat. Dan ketika gue lihat bintang yang paling terang. Gue harap itu dia. Meskipun gue enggak pernah tahu siapa dia. Masih belum gue jumpai juga. Meski belum terlihat, namun gue bisa merasakannya. Tapi tetap yakin dia orang yang gue tuju dan cari selama ini. Keyakinan gue yang seperti ini yang menuntun gue untuk menunggunya. Dan menghiraukan bintang-bintang yang lain. Itu yang terjadi pada gue saat ini.
            Sedikit memaksa, memang itu yang terjadi. Sedikit tak realistis, tapi gue tetap percaya itu. Keyakinan masa-masa labil. Entah itu sumpah, janji, ataupun harapan. Gue pernah berucap, keyakinan saat gue mencintai orang yang benar-benar pantas, saat itu terjadi bulan akan utuh bersinar. Seperti bulan purnama, dan hanya ada satu bintang yang paling terang bersinar. Itu benar-benar terucap saat gue harus keluar halaman depan rumah tengah malam sendiri. Karena gue punya kebiasaan tak bisa tidur hingga tengah malam. Depan gerbang, sepi tak ada siapapun. Setan apa yang merasuki gue saat itu, hingga gue berani keluar sendiri tengah malam yang dingin. Dan waktu itu gue juga punya kebiasaan keluar seusai Subuh. Suasana pagi masih dalam keadaan gelap. Gue selalu menyempatkan diri melihat bintang-bintang sebelum hilang ditelan fajar. Saat itulah gue selalu berucap hal konyol itu.
            Dan saat gue sudah mulai stabil, gue baru menyadari kata-kata gue yang dulu sering gue ucapkan saat tengah malam dan usai Subuh. Untung gue tak berucap, saat gue jatuh cinta, akan turun hujan salju di Indonesia. Yang jelas-jelas tak mungkin akan terjadi.
            Kalimat gue masih ada masuk akalnya juga. Saat bulan purnama memang terjadi saat tanggal lima belas penanggalan Jawa. Tapi pada saat yang sama dengan beribu bintang di langit. Dan hanya satu bintang yang bersinar, seperti memaksa. Gue sendiri, sejak berucap kalimat itu. Gue selalu memandang langit, khususnya saat bulan purnama. Dan gue enggak pernah menemui bintang bersinar itu. Yang ada situasinya saat itu, bulan purnama dan bintang-bintang terlihat kecil semua. Situasi yang kedua, purnama dan bintang yang bersinar terang ada dua buah. Disini gue bingung, bintang yang mana yang paling sangat bersinar. Situasi ketiga, bulan purnama, dan sama sekali bintang tak terlihat.
            Betapa labilnya gue ketika harus menangis semalam, dan lagi semalam berikutnya. Hanya karena tak kunjung melihat dan menyaksikan situasi yang sangat gue impikan. Ketika gue mulai stabil pun, gue juga harus menangisinya. Bukan menangisi bulan dan bintang. Menagis karena kekonyolan gue. Bahkan gue sampai berpikir bahwa saat gue berucap itu, ada malaikat yang mengamininya. Hingga terciptalah keadaan ‘single’ gue hingga masa kini.

Sendiri itu Menguatkan


Ternyata tak ada bedanya punya pacar atau enggak. Sebelum atau sesudahnya, sampai sekarang belum bisa membedakannya.
Ternyata sendiri dan bersama orang lain itu beda tipis, bahkan tak ada bedanya. Sendiri karena aku adalah aku. Bersama orang lain, aku akan tetap jadi aku. Merasa lebih kuat dengan kesendirian, justru itu yang kurasakan.
Sendiri itu bukan berarti tak bisa merasakan cinta (mungkiin...). 
Terlepas dari salah atau tidaknya suatu hubungan “pacaran”, hati ini seperti mengingkari hal yang tak seharusnya terjadi. Kadang sesuatu yang kita inginkan ternyata tak seperti apa yang kita bayangkan.

Perasaan ini layaknya seperti penerimaan yang kau dapat tak seperti harapan yang terkadang terlalu tinggi untuk diwujudkan,kecewa. Sekarang, aku telah menjalaninya. Dan setelah semua jadi kenyataan, ada keadaan dimana kau merasa bingung untuk menjalaninya. Ini seperti metamorfosis à      
                                                                                                                       
Jika harus berkata “jalani saja”, apa yang harus dijalani, ketika kau sendiri tak tahu apa yang harus dijalani.
Sendiri à membuat kau tampak lebih kuat, meskipun kau rapuh.
                        Membuat kau menyadari, suatu saat kau juga akan sendiri.
                             Membuat kau lebih menghargai arti kebersamaan
                                  & pastinya membuat kau lebih mengerti arti kesendirian. J

Saturday, January 19, 2013

Pertemuan Gelap


Panas kemarau panjang, kerontang di tenggorokan mengganjal telanan ludah. Hari ini setelah libur seminggu, aku harus kembali ke kampus. Memulai pengalaman yang lebih menantang dari sekadar datang, duduk, mengerjakan tugas,  mendengarkan penjelasan dosen. Ini berbeda dengan praktik kerja untuk mahasiswa yang magang di kantoran. Pilihan tiga tahun lalu untuk memasuki dunia kependidikan, kini harus diuji. Aku kembali ke sekolah. Bukan untuk belajar, namun untuk mengajar. Ya, kali ini aku akan berlatih menjadi guru yang baik. Simulasi untuk memasuki dunia pendidikan yang merupakan konsekuensi dari pendidikan yang kutempuh. Meskipun tak lama setelah pilihan itu aku harus menyesalinya. Namun aku tak bisa mundur, dan ini yang akan aku jalani.

Semua mahasiswa calon guru dengan pilihan sekolah yang sudah diambilnya. Tak tahu menahu siapa saja yang akan menjadi bagian baru dalam perjalanan simulasi ini. Nama-nama asing yang masih menjadi misteri seperti apa mereka. Mulai dari menduga-duga nama yang tak jelas berjenis kelamin apa, nama yang terdengar menyeramkan, nama aneh yang dengan dangkalnya berpikir pasti seaneh orangnya, dan juga nama yang tak meyakinkan terus terpampang dalam sekolah yang telah kupilih, SMA N 1 Pekalongan. Aku bersama dengan calon teman untuk tiga bulan ke depan.

Hari pertama perjumpaan dengan calon teman-teman ini. Niat awal untuk tak menghadiri, nyatanya aku hadir dengan segala sisa tenaga setelah seharian pergi melepas penat. Tak tahu apa-apa mengenai pertemuan antar orang asing ini. Semuanya serba tak jelas untuk dibayangkan.

*** Bersambung ***