Friday, September 25, 2015

01:00 Waktu Tak Mempertemukan


            Jam dinding yang tak pernah tepat. Empat jam dinding dan arloji yang Nara kenakan tak pernah menunjukkan waktu sebenarnya. Sengaja waktu diajukan lebih cepat sepuluh hingga lima belas menit. Nara memperhatikan Kire yang terus-menerus menatap jam di tangannya dan jam besar yang menggantung di dinding.
“Kata bunda agar kita sekeluarga tak bisa bermalas-malasan Re,” celetuk Nara sambil merapikan buku yang berserakan di ruang tengah. Alasannya, jika waktu diajukan lebih cepat maka semua kegiatan akan maju dengan sendirinya, walau harus tertipu waktu.
“Bukan aku yang mengejar waktu. Karena waktu tak akan terkejar. Aku dan waktu tak pernah jalan bersamaan, apalagi untuk mengejarnya,” gumam Nara yang serba mepet melakukan sesuatu.
“Ah, kurang lima belas menit lagi,” pikir Nara tak peduli.
            Jam berdentang setiap pergantian jam. Nara tahu, waktu belum saatnya menunjukkan apa yang ditunjuk jarum jam. Nara acuh, berlalu begitu saja. Jarum jam tanpa kompromi menghampiri angka-angka yang setia menunggu.
“Ra, lihat ini sudah jam berapa?!” Kire yang sejak tadi menunggu Nara untuk berangkat kuliah bersama tak sabar menanti.
“Iya, sebentar Re!” Kire mondar-mandir mengikuti Nara ke kamar.
            Kire tak tahu jam di kamar juga telah menipunya. Jam di kamar justru sengaja dilebihkan dua puluh menit lebih cepat dari waktu seharusnya. Nara yang mengetahui kelicikan jam dinding yang diajukan lebih cepat memilih untuk mengacuhkannya. Itu mengapa Nara tetap saja terlambat meskipun waktu telah berlalu. Nara sedang malas datang terlalu awal pada kuliah kali ini.
            Sampai di parkiran gedung. Jalan cepat. Mentari sedang dalam perjalanannya merajai bumi. Nara dan Kire berlari menghidari panas. Menerabas rerumputan dan mencari bayangan hitam untuk sekadar bersembunyi dari sengatan matahari.
“Ayo Re, lari!!”
“Gara-gara kamu nih! Udah panas gini baru berangkat,” kata Kire terbata-bata sambil berlari.
***

            Materi kuliah masih melanjutkan problematika minggu lalu. Nara harus menghadapi dosen dengan pertanyaan yang belum terjawab, ayam yang produktivitas bertelurnya menurun saat lebaran dan tahun baru. Pertanyaan bersambung setelah pertemuan yang lalu tak ada satu pun mahasiswa yang bisa menjawab.
“Dunia ini keras mahasiswaku,” kata dosen unik ini, “Pertanyaan ringan seperti ini saja tak ada yang mampu menjawabnya. Bagaimana kalian bisa memecahkan masalah negara yang seperti benang kusut!”
            Tak heran jika kuliah pajak, mahasiswa selalu rajin datang lebih awal. Bukan karena antusias mengikuti kuliah. Itu semua karena ketakutan mahasiswanya diajar dosen pajak yang menohok hati itu. Rajin datang awal untuk secepat mungkin duduk di bangku deretan tengah. Strategi belajar yang nyaman untuk mengikuti kuliah pajak, agar tak sampai sakit hati di tengah kuliah. Kalau duduk di depan itu jadi sasaran empuk untuk diberondong pertanyaan yang tak ada hubungannya dengan masalah pajak. Nah untuk deretan belakang juga tak kalah dibuat tegang.

            Semua mahasiswa dari berbagai macam karakter, dalam sekejap menjadi mahasiswa yang manis-manis, pendiam, penurut, dan mau saja diputar-balikkan dengan segala pertanyaan yang membingungkan. Kalau sudah begini, mahasiswa takut untuk datang terlambat. Bahkan satu jam sebelum jam masuk kuliah, semuanya sudah duduk rapi di barisan ketiga dari depan. Tempat duduk di depan selalu tak laku. Dosen dan mahasiswanya tampak tak akrab.
“Sama sekali tak ada antusias-antusiasnya mahasiswa ini! Jauh sekali jaraknya,” Kacamata Pak Didit diturunkan, matanya membelalak melihat tingkah mahasiswanya.
Memang belum saatnya masuk. “Kurang 20 menit lagi,” Pak Didit keluar ruangan.
            Menegangkan duduk di depan, apalagi ketika mengikuti kuliah yang satu ini. Dan jangan pernah coba-coba datang terlambat. Sudah pasti menjadi jam-jaman dosen sepanjang kuliah berlangsung.
            Melalui waktu yang dibiarkan berlalu lebih cepat. Tahu namun tak terbawa sepuluh, lima belas menit yang terlanjur berlari mendahului. Nara tetap acuh membiarkan waktu memburu. Nara dan Kire masuk kelas terlambat. Bukan terlambat karena sudah waktunya masuk, namun terlambat karena posisi duduk ternyaman sudah penuh.
“Kalian baru datang!” kata Chika. Sahabat yang selalu diandalkan untuk mem-booking tempat duduk, tak sanggup memenuhi permintaan Nara dan Kire.
Teman yang lain terlanjur berdemo. “Nggak ada pesan-pesan tempat duduk, jika orangnya tak ada!” teriak lantang mereka.
“Kali ini kami harus lebih terjaga mengikuti perkuliahan selama satu setengah jam. Gara-gara lembur tugas semalam, harus berusaha setengah mati membelalak penuh konsentrasi. Bayangkan...” Bercerita penuh drama pada teman di belakang tempat duduk Nara. Berharap ada belas kasihan untuk tukar bangku.
‘Ah, sia-sia saja! Pak Didit sudah bertengger di depan pintu tuh,” tersenyum masam, Kire meledek Nara.
            Cukup menjadi lelucon teman sekelas gara-gara pertanyaan sepele namun sangat menguras pikiran dan rasa malu.
“Mengapa harga telur ayam mahal saat hari raya lebaran dan tahun baru?”
“Ehm, tidak tahu pak. Mungkin...”
“Kamu itu pertanyaan gampang. Belum dijawab sudah bilang tak tahu!” tindas pak Didit.
Jawaban yang tak terpikirkan, “Karena produktivitas ayam untuk menghasilkan telur berkurang. Tahu kenapa?!” terdiam, “Itu karena saat lebaran ayam-ayam terlalu shock mendengar suara terompet dan petasan bergemuruh.”
“Emang gitu ya Re?!” kata Nara dengan polosnya.
            Kire mengembangkan senyumnya di balik buku, “Ah kamu Re, bukannya membantu malah ikutan nyebelin!”
Dengan senyum terpaksa Nara melihat pak Didit keluar ruang kelas. Nara dan Kire langsung bergegas pulang, seisi kelas bersorak dan berceloteh tak perlu menganggapi kuliah pajak hari ini.
            Kuliah terakhir minggu ini begitu menyebalkan. Nara harus membawa suasana ini hingga akhir pekan, kesal dan penat. Bekal tugas dari awal minggu selalu menumpuk di akhir pekan. Harus segera diselesaikan sebelum kelabakan dan begadang semalam suntuk gara-gara tugas belum selesai.
            Harus membagi waktu dengan otak kanan yang selalu mengajak Nara bermain-main, nonton TV, mendengarkan musik, bernyanyi riang. Namun kali ini tak bisa dilakukan semuanya.
“Rasanya membagi rasa sakit dengan tugas kuliah yang menumpuk saja terlalu sulit.” Nara harus terbaring di kamar seharian karena tenggorokan gatalnya mendadak berevolusi menjadi flu.
***

            Meski tahu waktu berjalan terlalu cepat meninggalkan namun Nara tak terbawa kecepatan yang seperti memburu. Serasa ingin berlari dari waktu yang tak pernah tepat. Walau begitu Nara masih tetap menjalaninya, tak peduli lagi jam-jam penipu ini.
“Yang sesungguhnya, sebenar-benarnya waktu ada pada jam tangan di laci kamar bunda. Sudahlah tak sempat lagi mencocokkan waktu,” pikir Nara.
            Terus saja berjalan di putaran waktu ini. Tak ada yang tahu kapan waktu yang tepat, sebelum benar-benar melaluinya. Dan tak ada yang ingin berada dalam kesalahan untuk menginjakkan diri di waktu yang terus berputar. Hadir di waktu yang tak tepat, akan seperti ini yang terjadi... Rengga mencintai Nara, namun mereka tak pernah dipertemukan oleh waktu.
            Tetangga yang menjadi teman masa kecil Nara, kini semakin dekat dengan Nara. Nara sudah menganggapnya seperti saudara sendiri, melakukan semua bersama. Ketika Nara mengetahui Rengga memendam rasa padanya, Nara justru berbalik. Semakin lama Nara semakin membencinya. Semakin Rengga memedam perasaannya padanya, Nara semakin menjauh. Nara selalu acuh pada Rengga.
            Bagaimana bisa, partner panjat pohon, pegulat tangguh, dan pembidik gundu ini memendam perasaannya pada Nara, cewek dekil, cuek, ingusan, yang wajahnya dipenuhi arang hitam saat bermain bersama sewaktu dulu.
“Aku tak ingin membalas cinta Rengga,” tegas Nara.
            Nara teringat ucapan Rengga dulu, tempe itu dari pecahan ternit, tahu dari bongkahan genting. Cinta itu dari pecahan benci, sayang itu dari pecahan peduli. Entah apa maksudnya. Rengga selalu memberikan tiap pecahan ternit dan genting pada gadis-gadis cantik di kompleks rumah. Katanya tanda cinta, Rengga memang pandai menggombal di masanya. Jika mengingatnya, Rengga selalu berkata, “Mereka mau-maunya dikasih begituan! Beda sama sekarang, mau ngerayu cewek aja butuh modal yang nggak dikit.” Nara tenggelam dalam memori panjang masa kecilnya. Nara tertawa geli.
            Di bangku Sekolah Dasar, Rengga terlalu dini untuk jadi penggombal. Nara selalu tertawa terbahak-bahak mengingat hal konyol itu. Tak disangka kenangan itu, sekarang hanya menjadi ketakutan.
“Orang lain saja, jangan aku. Aku cukup melihatmu menjadi cowok tengil. Dan aku cukup menasihatimu dalam perjalanan cintamu.” Nara duduk termenung.
Melamun di beranda rumah. Sayup angin menyingkap buku diary yang Nara tulis. Waktu telah larut, Nara terbiasa tidur malam, menanti rasi bintang Auriga di bumi belahan Utara. Nara tak ingin melewatkan penampakan terbaik Auriga pada bulan Mei ini. Diam-diam Nara mengikat keinginannya yang kandas untuk menjadi ahli astronomi sewaktu kecil. Mengamati periode bulan dan rasi bintang, kebiasaan yang sering dilakukannya karena sering tidur sampai larut, lewat dari jam dua belas.
***

Senja, matahari mengintip samar untuk pamit di balik gedung-gedung bertingkat. Merangkak, menjejaki genting-genting cokelat di lantai dua atap rumah. Semua perasaan tertumpah. Rengga membuka isi hati yang selama ini tersimpan rapi. Yang Nara tahu, Rengga hanya sahabatnya. Kini Nara harus tahu perhatian Rengga yang ternyata lebih dari perhatian seorang sahabat.
“Woii, bengong aja kamu Ngga!”
“Apaan sih Ra?”
“Kamu yang apaan! Ngelamunin apa sih?”
“Lagi ngelamunin kamu nih...”
“Plis deh!” Nara tak pernah melihat pandangan yang seperti ini. Risih melihat Rengga menatap penuh makna.
“Bukan, ini bukan tatapan mata seorang sahabat! Ini tatapan seseorang yang berharap orang yang ditatapnya mengetahui perasaan yang dipendam sudah lama.” Tatapan mata seperti tatapan kekaguman dan rasa sayang.
“Aku pernah melihatnya. Ya, tatapan lelaki di restoran ujung rumah. Tatapan matanya pada Kire. Lelaki yang tak jelas itu, yang mengincar Kire sejak lama, ya aku tahu pasti!” Kepanikan Nara terlihat dari caranya menatap tak tentu arah.
“Nggak! Nggak mungkin!!” Nara berteriak membanting boneka kelinci yang digenggamnya.
“Ra, sadar! Kamu kenapa?” Rengga memukul Nara dengan boneka itu.
            Nara beranjak pergi. Mengalihkan semua kebenaran yang akan didengarnya.
“Aku takut. Lebih baik menghindar,” gumam Nara sambil menuruni atap genting.
“Aku ke kamar kecil dulu ya Ngga.”
“Kamu itu...” sambil menggelengkan kepala, Rengga terheran-heran.
            Sekembalinya dari mengulur waktu, Rengga masih juga memaksakan diri mengatakannya.
“Aku mencintaimu,” ucap Rengga bersamaan dengan suara truk yang melintas. Nara tak bisa menghindari percakapan.
“Apa Ngga?!” Nara berpura tak mendengar. Truk yang melintas dijadikan kambing hitam. Nara tak ingin mendengarnya.
            Sesuatu yang tak dapat berubah dari hubungan mereka. Sahabat, mereka terbiasa dengan kata itu. Sangat sulit untuk mengubah suatu kebiasaan. Ketika alur sudah terbuat, lalu harus merubahnya. Akan ada kekacauan setelah ini karena Nara yang terlalu memaksakan diri untuk tak menyakiti Rengga, sahabatnya.
***
            Bulan purnama telah lewat. Bulan nampak seperti tandan tua dari bawah. Sebentar lagi bulan tak akan terlihat sampai batas bulan baru. Seperti Nara yang enggan menampakkan diri. Terselimuti perasaan mengambang, serba tak pasti. Sedikit datar, tak ada kejutan. Hanya kekagetan luar biasa setelah perasaan terkuak. Perasaan yang terbebani oleh sahabat sendiri.
“Ra, sombong...”
“Apa Ngga?” Nara tersenyum
“Akhir-akhir ini ke mana? Susah banget ditemui.”
“Aku di rumah Ngga.”
“Iya, kenapa enggak nemuin aku. Kemarin kan aku ke rumahmu.”
“Owh, iya ya...”
“Iya, kamu sibuk?”
“Iya nih, lagi nyari buku buat tugas kuliah. Bukunya langka, jadi susah nemu,” Nara menyibukkan diri, tak berani menatap wajah Rengga.
            Nara selalu tak nyaman semenjak Rengga menyatakan perasaannya padanya. Nara selalu menghindari Rengga setiap ada kesempatan bertemu. Balasan senyum setelah pernyataan cinta itu membuat Rengga penasaran dengan respon Nara terhadapnya.
“Senyum masamku juga tak mampu menjelaskan bahwa aku tak lebih hanya menganggapnya sebagai sahabat. Memang senyum yang singkat. Dia memang tak pernah peka bahasa tubuh!”
            Nara selalu ingin bisa mengerti sahabatnya. Jika Rengga diam, itu berarti dia sedang marah atau sedang sakit. Jika sedang sakit, Rengga selalu menyembunyikannya di kedua tangkupan giginya, sambil meringis kecil. Jika marah, Rengga juga akan melakukan hal yang sama, ditambah dengan mengepalkan tangannya erat-erat. Cara dia menahan marah.
            Dulu, saat Rengga marah, tak sengaja dorongan tangannya membuat Nara tertabrak sepeda dan gerobag burung yang melintas di depan rumah. Kotoran burung yang kering bertaburan ke seluruh tubuh Nara. Sejak saat itu, Rengga selalu diam jika marah pada Nara. Namun kali ini, untuk mengerti Rengga, Nara harus mengorbankan perasaannya. Mencoba bersikap seolah satu rasa padanya, hanya untuk menyenangkannya dan tak ingin membuat Rengga kecewa.
***



            Nara dan Kire duduk bersama membahas tugas kelompok usaha bisnisnya. Seperti biasa, Rengga datang untuk mengganggu.
“Kamu nggak kuliah Ngga?” tanya Kire.
“Udah pulang kok,” Beruntung hanya teman masa kecil, SD, SMP, SMA. Nara lebih tenang, kegiatan kuliahnya tak terusik keberadaan Rengga.
“Untung kamu nggak satu kampus sama aku ya Ngga, kalau enggak kan bosen banget bareng terus,” gumam Nara.
“Apa? Tadi kamu ngomong apa Ra?!” tanya Rengga memperhatikan Nara.
“Eeenggak kok, nggak apa-apa!” Nara menunduk.
            Nara sengaja menghindari percakapan dengan Rengga. Mata selalu beralih jika Rengga menatapnya. Nara mencoba mengusik Rengga pergi, agar dia bisa bicara leluasa pada Kire mengenai perasaannya. Rengga tak juga pergi padahal Nara sudah memaksanya minum jus jeruk buatannya yang sangat masam. “Ngga, kamu nggak mau ke kamar mandi?”
“Enggak. Kenapa emang?” Nara tersenyum masam. Nara mengalah, memberi kode pada Kire. Mereka beranjak dari  ruang tamu.
“Re, bantu aku menjelaskan semua...” Nara bingung harus bagaimana.
“Aduh Ra, aku juga bingung. Hak dia untuk mencintai orang lain kan?”
“Iya juga sih. Tapi kenapa harus gue!!” Nara kesal.
“Cinta mana bisa milih!” lagi-lagi Kire justru membuat Nara semakin bingung.
“Kamu kan pernah terang-terangan menolak lelaki bujang di ujung sana Re!”
“Jangan bercanda kamu Ra.. Ini kasusnya berbeda.”
“Sama saja kok.. Tolong dibantu ya, ya Re... pliss!”
            Tidak akan kelar sebelum semua dijelaskan sejelas-jelasnya. Rengga tak memahami bahasa tubuh. Tak mengerti kalimat yang berbelit-belit. Dan jelas tak memahami maksud Nara yang tak ingin menyakitinya.
Maju, mundur, mundur lagi. “Jangan hari ini Re!”
“Kenapa Ra?”
“Lihat wajahnya. Dia belum siap,” bisik Nara.
“Yeee, emang dari dulu wajahnya gitu. Kamu yang belum siap Ra, bukan dia,” Kire melirik Nara.
“Besok aja deh. Aku takut dia salah menerima.”
“Bisa jadi dia pikir aku juga mencintainya. Enggak, aku takut menyakitinya, dan akhirnya tak tega. Jadi salah paham nantinya!”
“Terserah kamu deh Ra.”
            Semuanya salah. Sejak tadi Rengga mendengarkan pembicaraan Nara dan Kire. Nara pikir dia tak tahu. Ternyata dia lebih paham suara bisikan, daripada harus dijelaskan detail. Dari tadi Rengga diam, ternyata dia mencerna kebisingan suara Nara dan Kire yang berbisik, terdengar jelas. Rengga berbalik badan dan berjalan ke luar melewati Nara dan Kire. Tanpa menyapa mereka dan berlalu.
***

            Mentari lewat 90ยบ, hawa musim kemarau semakin menjadi-jadi. Liburan yang menguras keringat. Hanya duduk di teras rumah, untaian peluh menuruni helaian rambut. Rasanya beribu kali perasaan seperti ini muncul. Nara menghabiskan siangnya, memikirkan cinta yang mengambang, terombang-ambing. Perasaan tak menentu karena cinta yang tak termiliki.
            Sepanjang hari ini Rengga belum juga terlihat. Biasanya pagi-pagi dia sudah mengajak Nara bermain sepeda di taman kota.
“Terik begini, Rengga kok belum kelihatan..” Tak lama kemudian, Kire dan Chika datang dengan mobil putih kucing berpita pink, Hello Kitty-nya. Hanya bunyi klakson yang menyapa.
“Apaan sih Re? Kenapa enggak turun?”
“Ayo!” teriak Chika, mulutnya lebar menganga.
“Ayo ke mana?”
“Kita kan mau nonton pensi!” Mulut Kire manyun. Harus berapa lama lagi menunggu Nara bersiap-siap.
“Sekarang?! Tunggu!!” teriak Nara.
            Nara lupa, hari ini dia janji untuk nonton bazar dan pentas seni SMA bersama Kire. Meski tak muda lagi, wajah mereka masih pantas disebut anak sekolah, meringkup bersama ABG-ABG dalam masa pubertas. Tak mengingat lagi betapa sudah mature-nya mereka, dewasa yang menua.
            Pensi kali ini, di tempat sekolah Nara dulu, guest star nya Sheila On 7, band favorit Nara, Rengga, Chika, dan Kire. Menunggu nanti malam sambil mengunjungi bazar, Nara dan Kire bertemu teman-teman satu angkatannya.
“Sayang, Rengga nggak ada. Dia kan ngefans banget sama SO7.”
“Iya padahal tadi udah kayak artis aja kamu Ra, diajak foto bareng. Coba deh cari di alamat fanspage di sticker tadi, pasti ada tuh fotomu.” Nara menghiraukan celotehan Kire yang tak nyambung.


“Iya, dia ngilang ke mana ya Ra? Ah, dia pasti datang. Cuma nggak ngajak kita aja,” celetuk Chika. Nara sedikit cemas dengan keadaan Rengga. Rengga butuh waktu untuk sendiri.
***

00 : 00 : 00
            Malam hari menjelang pagi, usai pulang dari pensi, sudah menjadi kebiasaan berkumpulnya semua perasaan selama sehari penuh. Senang, sedih, jenuh, semuanya menumpuk di penghujung pergantian hari. Kalau sudah begini, hari esok rasanya akan terbebani dengan konflik hati. Meraih diary hitam curahan hati Nara, rasanya sedikit terobati. Dalam sekejap, tak butuh waktu lama untuk tertidur pulas. Pena tergeletak di jemari Nara yang masih menggenggam.
            Alarm berbunyi, belum sampai tiga jam berlalu. Setengah sadar berjalan ke kamar mandi. Sadar bahwa tak ada kuasa atas tubuh dan kehidupan ini.
Di mana sebaik-baiknya sandaran, tempat berkeluh kesah, tempat kembali dan berserah diri hanya kepada-Nya. Nara membasuh wajahnya, terbalut dengan kedinginan.
“Jika kebingungan ini membuatku dewasa, membuatku menjadi kuat, maka berikanlah hamba-Mu kesabaran untuk melewatinya. Berilah petunjuk atas segala yang terjadi. Semoga Engkau memberikan yang terbaik,” doa Nara.
            Ini mengenai prinsip, prinsip hidup yang dibangun sekian lama. Itu mengapa menjadi tak mudah untuk diputuskan. Dengan segala prinsip yang Nara punya, dengan segala keterbatasan ilmu dan kepolosan, saat itu 17 tahun. Saat duduk di bangku sekolah mengengah, Nara mengikrarkan diri untuk selalu menjaga hatinya. Bagi Nara hidup sekali, mati pun hanya sekali, jatuh cinta juga sekali. Tak seperti kawan-kawan lain yang berkali-kali pacaran.
“Aku menginginkan kekasih pertama dan terakhir untukku.”
            Dan setiap niat akan memberikan jalannya sendiri. Usaha Nara, sebagaimana normalnya wanita yang menyukai lawan jenis, tak semudah itu dijalani. Jika memang belum waktunya, inilah yang akan terjadi. Terbayang kisah lalu yang mengiris hati. Terkadang jika Nara mengingatnya rasanya ingin mengasihani diri sendiri.
Cinta bertepuk sebelah tangan, bisa jadi lelaki itu sudah punya pacar, bisa jadi dia tak menyukaimu, atau telah ada pengisi di hatinya.
Cinta tak sampai, bisa jadi kamu mencintai orang yang jauh, sama sekali tak mengenal kamu. Bisa jadi kamu tak dekat namun memaksakan dia mencintaimu.
Cinta yang lain, bisa jadi ada orang yang mencintaimu namun kamu lebih cenderung memilih orang lain. Kisah seperti ini yang sering Nara rasakan.
“Apa pun itu, aku mengartikan memang belum saatnya. Entahlah, aku hanya bisa mengartikan dengan keterbatasanku.”
Bisa dibilang ini kedangkalan cinta. Bukan, salah! Ini sama sekali bukan cinta. Cinta tak pernah mengenal kata dangkal. Berkali-kali tertarik, namun sekalinya sudah dekat Nara memutuskan untuk menjauh. Kedalaman hati yang tak bisa mengerti, memahami bahwa cinta itu sesuatu yang berbeda. Yang tak mudah hilang dan tak tergantikan, “Mungkin itu cinta!” Nara tersenyum seperti orang mengigau. Dia melanjutkan mimpinya lagi.


            Belum saatnya. Kali ini karena Nara memang tak menyukai Rengga. Nara dan Rengga sudah seperti saudara, kecil bersama. Kenangan terbaik bersamanya, ya hanya waktu kecil. Usia yang membuat semua harus ada batasannya. Nara mulai malu-malu jika bertemu dengannya. Dia yang suaranya mendadak menggema, tak lagi senyaring dulu. Bentuk kesombongan atau bukan, yang pasti Nara tak pernah bisa seakur dulu. Terbiasa menghindari Rengga lebih sering dilakukan Nara.
“Aku memang berharap akan menemukan seseorang yang sama-sama saling mencintai. Cinta yang tak akan pernah hilang karena waktu,” pikir Nara. Sambil melewati daun berguguran di tepi kolam, lamunan membawa Nara ke dunia khayalnya.
            Sejak dulu, tak dipungkiri Nara memang berharap seperti perempuan-perempuan lain yang telah punya teman dekat. Biasa orang sebut pacar. Belajar sambil mencari lelaki yang menyukai dan disukainya. Saling menjalin cinta di kampus tercinta.
            Sampai Nara pernah menyalahkan diri sendiri karena tak bisa seperti yang lain. Mengapa sampai sekarang belum juga bisa punya pacar dan segudang pertanyaan yang justru membuat Nara merasa sendiri. Merasa tak pantas. Memang belum saatnya, namun terkadang Nara memaksakan diri untuk semua itu. Dalam permasalahan cinta itu munculah dewi-dewi penolong. Kire dan Chika datang untuk mengingatkan prinsip itu. Sahabat yang seperti alarm, seperti penasihat hidup, seperti ibu peri.
            Perjalanan hidup, baik dan buruk, yang kadang sejalan dengan keinginan dan yang terkadang bertentangan, sesuatu yang menjadi bagian dari kisah hidup Nara. Cuilan dari perjalanan waktu Kinara Larasti. Dia mengakhiri lamunannya dengan senyum. Terjangan dedaunan menyadarkan diri, waktu sudah terlalu pijar untuk bermalas-malasan. Dia beranjak menuju kamar mandi.
vddc

Tunjuklah bintang yang kauharap. Jangan berharap pada bintang jatuh.
Taruh harapanmu pada bintang yang bersinar terang. Aku akan berada di sana.


Kertas kecil yang menempel di daun, ditemukan Nara di kamarnya usai mandi.
“Mungkin dari Rengga,” pikir Nara.
Nara berlari keluar, dia tahu di mana tempat daun itu ada. Di taman kota, mungkin bukan satu-satunya ada di sana. Namun tiap sore, Rengga selalu ke sana, bersepeda.
            Sore hari, Nara bergegas menuju taman. Memastikan keadaan Rengga yang menghilang akhir-akhir ini. Pas sekali, Rengga sedang duduk di bangku taman. Nara menyebelahi Rengga.
“Berlari ke mana pun, setiap yang telah terpahat diingatan akan terus hadir, sekali pun dalam diam.” Rengga tak berpaling dari dalamnya tatapan. Melihat lurus, entah ke mana. Mengacuhkan Nara, walau telinga terus memperhatikan apa yang terucap.
            “Kebaikan seseorang bisa dipertimbangkan, pengorbanan yang ditunjukkan, bisa dijadikan alasan seseorang untuk membalasnya. Namun tidak dengan cinta,” sambil mengayunkan tangan Rengga, “...tak bisa ditimbang, yang harus sama dengan ukuran. Bukan berarti yang kauberikan harus dibalas dengan cinta. Karena cinta tak bisa dengan kata harus, cinta itu tulus, tak bisa dipaksakan.”
“Aku akan pergi,” hanya itu ucap Rengga.
“Pergi, maksud kamu Ngga?!”
Hanya balasan senyum yang Nara terima. Sama tak mengertinya, Rengga pasti tak mengerti ucapan Nara, dan Nara hanya bisa bingung mengartikan senyuman Rengga. Rengga meninggalkan Nara bersama daun kering yang berguguran sore itu.
            Sore dengan jingga yang menyayat. Nara ingin pergi bersama Rengga, namun Rengga menginginkan jalannya sendiri. Kehilangan teman kecilnya. Nara hampir tak percaya akan adanya ketulusan, persahabatan.
“Jika telah sendiri-sendiri, mungkin kita akan terlupakan,” pikir Nara, “Jika kamu pikir sia-sia, tinggal kamu hitung detik demi detik terlalui, dan berhentilah mencari.”



            Nara memutuskan untuk tak mencari Rengga, walau hatinya terus gusar.
“Suka-suka dia. Jika dia pikir aku akan mencarinya, Rengga salah besar. Biarlah dia yang akan mencari.” Raut wajah sendu terlihat, seakan rela namun tak rela.
            Cinta itu tak dipertemukan waktu. Walau sama-sama berjalan, tujuan yang diyakini Nara dan Rengga berbeda. Mereka akan menemukan cinta lain di waktu yang lain, dan mungkin dengan orang lain.

Sepenggal


    Penantian itu akan sampai pada waktunya. Dari ujung ke ujung penantian yang semakin membuat Nara mengerti. Dan akhirnya harus terhenti pada titik balik dari semua pencarian dan penantian.
            Pertemuan yang menyita waktu dan membuat Nara paham bahwa yang terjadi akan tertelan sang waktu. Hanya yang beruntung yang dapat mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Yang lain bukan tak berarti apa-apa. Namun sesuatu yang paling berarti dan memberikan makna, adalah kesan yang memberikan banyak pesan kehidupan.
            Cahaya mentari tak menembus tirai jendela, namun radiasi panas memancar membuat gatal seluruh tubuh. Nara terusik dari tidur lelahnya. Kebiasaan menempel di tembok. Nara selalu melakukannya jika kepanasan.
“Ra, sudah jam berapa ini? Ayo bangun.”
“Iya bunda, sebentar.”
“Anak perawan kok malas-malasan. Awas kalau AC nya dinyalain!”
“Yaah bunda, tau aja. Kepanasan ni...”
“Bangun dong, mandi biar segar!”
“Iya,” sahut Nara masih dengan mata terpejam.
            Pulang dari kemah, membuat Nara tak enak badan. Apalagi harus begadang dan diterpa dingin angin malam. Nara mendampingi pelantikan anggota pramuka di sekolah menengahnya dulu. Kemah, jalan-jalan malam dan penobatan pramuka inti, menyisakan pegal dan lelehan ingus dari hidung merahnya.
Teman, bukan dia yang selalu membawa kebahagian untukmu. Namun dia yang bisa memberikan hikmah dan pelajaran dari setiap perjalanan hidup.
“Dan akhirnya dalam segala kesakitan ini, aku mengucapkan banyak terimakasih pada seseorang yang bernama Awan. Terimakasih, darimu telah kutemukan makna hidup. Memang semuanya telah menjadi suratan-Nya. Tak kusesali telah berjumpa denganmu. Kamu yang terbaik dan tetap akan jadi yang terbaik.”
Duduk setengah sadar. Nara menyemangati dirinya sendiri yang tengah rapuh.
Nara mengalami pengurusan yang luar biasa setelah 5 kg berat badannya luruh entah ke mana. Masalah yang tak kunjung usai, mulai dari cinta yang seperti membelenggu, setelah mati-matian menyelesaikan skripsinya, dan harus mematahkan cintanya sendiri. Belum lagi status sebagai pengangguran yang disandangnya setelah dinyatakan lulus. Dengan segala semangat yang terserak entah ke mana, senyum Nara masih manis seperti biasanya. Senyum yang bahkan lebih manis meski pipinya tak lagi terlihat berisi seperti bakpao mengembang.
Kamu ada karena sepi, dan hilang karena sepi.
Aku menemukanmu pada belahan waktu yang terus berjalan.
Dalam kesunyian ini, kehadiranmu menyeka dan seolah menghentikan waktu. Menatap walau sekejap, aku terbawa pada lingkaran waktu hidupmu.

Nara mencoba menjalani semua dengan keyakinan yang ada, tak peduli lagi apa kata dia ‘Awan’ tentang cinta, mengenai keyakinannya. Semua akan kembali pada apa yang kita pikirkan, dengan segala risiko. Inilah pilihan hidup...

Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depan. Hanya bisa menjalani, karena waktu pun terus berlari. Detik berganti menit, menit bergulir, perjalanan waktu yang tak bisa dihentikan. Jarum paling pendek bergerak lambat, namun pergeserannya sangat menakutkan untuk ditaklukan. Kita akan beradu dengan waktu.
Pilihan hati, bukan berarti takdir yang mempersatukan. Kadang hanya terjebak urusan hati yang tak seharusnya dituruti. Karena jika sudah mengakar untuk mencabutnya saja harus berpeluh-keluh.
Bagaimana kita bangkit dari keterpurukan, bagaimana kita menata dari awal, bagaimana kita menatap ke depan yang sebenarnya sama-sama kita tahu tak ada kejelasan dari apa yang belum kita jalani. Namun kita tetap meyakini, kita akan mampu menghadapi. Ya, ini yang Nara rasakan.
Dulu, setengah mati aku mencinta. Sekarang, setengah mati aku membenci.
Dan nanti, setengah mati pula aku merindu.(Nara)




            Nara kembali dengan perasaan yang tak utuh lagi. Mencoba mengembalikan lagi, utuh sebelum mengenal Awan. Namun justru ini yang terjadi... Memaksakan justru menyakiti dirinya sendiri. Akhirnya Nara akan tetap seperti ini, dengan segala luka menjalani hidup.
Aku menunggumu untuk lapisan waktu yang terbalut rindu.
Kembalilah jika takdir menuntunmu demikian. Aku akan merangkak kembali, berlatih untuk berdiri tegak, berjalan, dan bahkan berlari untuk cinta yang rapuh ─ oleh waktu.
            Melepas ─ bukan! Ini bukan seperti mengikhlaskan. Karena memang yang seharusnya seperti ini, berpisah.
“Aku dan Awan belum seharusnya bersatu dalam perjuangan yang akan lebih berat ke depannya. Kehidupan yang sesungguhnya, baru dimulai.” Dengan segala baik dan buruknya, mereka berpisah.

Jika waktu mengizinkan waktumu dan waktuku bertemu, berjumpa denganku,
aku akan sangat bahagia. Sekali pun hanya sempat tersenyum.
Kamu akan menemukan ketulusan ini,  meski kau menghiraukannya.
Aku akan bertahan.
Sampai jumpa lagi di perjalanan waktu yang mungkin akan mempertemukan lagi.

           
            Celotehan yang sempat Nara tuliskan lewat tinta silver pada diary warna hitamnya, sebelum membuka halaman baru dalam hidupnya. Tulisan yang akan menjadi pengingat, ada yang pernah mengisi, hingga tertulis cerita di sini. Ada janji yang akan mengingatkan, mengenai keteguhan penantian. Walau hanya harapan yang akan disambut takdir atau hanya akan terkikis takdir. Sekali lagi ini mengenai keyakinan. Waktu yang akan jadi hakim, penentu apa yang akan terjadi.
“Ketika semua berawal dari waktu dan berakhir karena waktu. Ketika semua ada masanya dan hilang karena saatnya.”
Untuk dia yang mengajariku menghafal jalan ─ jalan pulang ke hatimu.


Tuesday, January 29, 2013

Jatuh Cinta dan Patah Hati itu Sama


Jatuh cinta dan patah hati itu sama seperti ketika kita melihat bintang.
Ketika kamu jatuh cinta, kamu akan melihat dan menunjuk salah satu bintang yang paling terang.
Dan kamu akan merasa bahwa bintang yang bersinar itu seperti orang yang kamu cinta.
Ketika kamu patah hati, kamu juga akan melihat bintang yang paling terang
Dan kamu akan merasa tak cukup mampu menggapainya, karena dia terlalu jauh.

            Ini juga gue alami saat gue menanti cinta. Cinta yang enggak sama sekali gue tahu siapa dia. Tak terdefinisikan siapa dia. Bukan seperti orang jatuh cinta yang sudah pasti objeknya. Gue jatuh cinta sama ‘dia’. Di sini objeknya adalah ‘dia’. Yang terjadi pada gue adalah gue sedang menanti kata kerjanya. Jatuh cinta. Gue menunggu kapan saatnya bisa jatuh cinta dengan orang yang tepat. Dan ketika gue lihat bintang yang paling terang. Gue harap itu dia. Meskipun gue enggak pernah tahu siapa dia. Masih belum gue jumpai juga. Meski belum terlihat, namun gue bisa merasakannya. Tapi tetap yakin dia orang yang gue tuju dan cari selama ini. Keyakinan gue yang seperti ini yang menuntun gue untuk menunggunya. Dan menghiraukan bintang-bintang yang lain. Itu yang terjadi pada gue saat ini.
            Sedikit memaksa, memang itu yang terjadi. Sedikit tak realistis, tapi gue tetap percaya itu. Keyakinan masa-masa labil. Entah itu sumpah, janji, ataupun harapan. Gue pernah berucap, keyakinan saat gue mencintai orang yang benar-benar pantas, saat itu terjadi bulan akan utuh bersinar. Seperti bulan purnama, dan hanya ada satu bintang yang paling terang bersinar. Itu benar-benar terucap saat gue harus keluar halaman depan rumah tengah malam sendiri. Karena gue punya kebiasaan tak bisa tidur hingga tengah malam. Depan gerbang, sepi tak ada siapapun. Setan apa yang merasuki gue saat itu, hingga gue berani keluar sendiri tengah malam yang dingin. Dan waktu itu gue juga punya kebiasaan keluar seusai Subuh. Suasana pagi masih dalam keadaan gelap. Gue selalu menyempatkan diri melihat bintang-bintang sebelum hilang ditelan fajar. Saat itulah gue selalu berucap hal konyol itu.
            Dan saat gue sudah mulai stabil, gue baru menyadari kata-kata gue yang dulu sering gue ucapkan saat tengah malam dan usai Subuh. Untung gue tak berucap, saat gue jatuh cinta, akan turun hujan salju di Indonesia. Yang jelas-jelas tak mungkin akan terjadi.
            Kalimat gue masih ada masuk akalnya juga. Saat bulan purnama memang terjadi saat tanggal lima belas penanggalan Jawa. Tapi pada saat yang sama dengan beribu bintang di langit. Dan hanya satu bintang yang bersinar, seperti memaksa. Gue sendiri, sejak berucap kalimat itu. Gue selalu memandang langit, khususnya saat bulan purnama. Dan gue enggak pernah menemui bintang bersinar itu. Yang ada situasinya saat itu, bulan purnama dan bintang-bintang terlihat kecil semua. Situasi yang kedua, purnama dan bintang yang bersinar terang ada dua buah. Disini gue bingung, bintang yang mana yang paling sangat bersinar. Situasi ketiga, bulan purnama, dan sama sekali bintang tak terlihat.
            Betapa labilnya gue ketika harus menangis semalam, dan lagi semalam berikutnya. Hanya karena tak kunjung melihat dan menyaksikan situasi yang sangat gue impikan. Ketika gue mulai stabil pun, gue juga harus menangisinya. Bukan menangisi bulan dan bintang. Menagis karena kekonyolan gue. Bahkan gue sampai berpikir bahwa saat gue berucap itu, ada malaikat yang mengamininya. Hingga terciptalah keadaan ‘single’ gue hingga masa kini.

Sendiri itu Menguatkan


Ternyata tak ada bedanya punya pacar atau enggak. Sebelum atau sesudahnya, sampai sekarang belum bisa membedakannya.
Ternyata sendiri dan bersama orang lain itu beda tipis, bahkan tak ada bedanya. Sendiri karena aku adalah aku. Bersama orang lain, aku akan tetap jadi aku. Merasa lebih kuat dengan kesendirian, justru itu yang kurasakan.
Sendiri itu bukan berarti tak bisa merasakan cinta (mungkiin...). 
Terlepas dari salah atau tidaknya suatu hubungan “pacaran”, hati ini seperti mengingkari hal yang tak seharusnya terjadi. Kadang sesuatu yang kita inginkan ternyata tak seperti apa yang kita bayangkan.

Perasaan ini layaknya seperti penerimaan yang kau dapat tak seperti harapan yang terkadang terlalu tinggi untuk diwujudkan,kecewa. Sekarang, aku telah menjalaninya. Dan setelah semua jadi kenyataan, ada keadaan dimana kau merasa bingung untuk menjalaninya. Ini seperti metamorfosis ร       
                                                                                                                       
Jika harus berkata “jalani saja”, apa yang harus dijalani, ketika kau sendiri tak tahu apa yang harus dijalani.
Sendiri ร  membuat kau tampak lebih kuat, meskipun kau rapuh.
                        Membuat kau menyadari, suatu saat kau juga akan sendiri.
                             Membuat kau lebih menghargai arti kebersamaan
                                  & pastinya membuat kau lebih mengerti arti kesendirian. J

Saturday, January 19, 2013

Pertemuan Gelap


Panas kemarau panjang, kerontang di tenggorokan mengganjal telanan ludah. Hari ini setelah libur seminggu, aku harus kembali ke kampus. Memulai pengalaman yang lebih menantang dari sekadar datang, duduk, mengerjakan tugas,  mendengarkan penjelasan dosen. Ini berbeda dengan praktik kerja untuk mahasiswa yang magang di kantoran. Pilihan tiga tahun lalu untuk memasuki dunia kependidikan, kini harus diuji. Aku kembali ke sekolah. Bukan untuk belajar, namun untuk mengajar. Ya, kali ini aku akan berlatih menjadi guru yang baik. Simulasi untuk memasuki dunia pendidikan yang merupakan konsekuensi dari pendidikan yang kutempuh. Meskipun tak lama setelah pilihan itu aku harus menyesalinya. Namun aku tak bisa mundur, dan ini yang akan aku jalani.

Semua mahasiswa calon guru dengan pilihan sekolah yang sudah diambilnya. Tak tahu menahu siapa saja yang akan menjadi bagian baru dalam perjalanan simulasi ini. Nama-nama asing yang masih menjadi misteri seperti apa mereka. Mulai dari menduga-duga nama yang tak jelas berjenis kelamin apa, nama yang terdengar menyeramkan, nama aneh yang dengan dangkalnya berpikir pasti seaneh orangnya, dan juga nama yang tak meyakinkan terus terpampang dalam sekolah yang telah kupilih, SMA N 1 Pekalongan. Aku bersama dengan calon teman untuk tiga bulan ke depan.

Hari pertama perjumpaan dengan calon teman-teman ini. Niat awal untuk tak menghadiri, nyatanya aku hadir dengan segala sisa tenaga setelah seharian pergi melepas penat. Tak tahu apa-apa mengenai pertemuan antar orang asing ini. Semuanya serba tak jelas untuk dibayangkan.

*** Bersambung ***

Saturday, June 16, 2012

Hanya Sebatas Perantara


“Cintaku untukmu itu seperti pedasnya cabai. Sepedas apapun rasanya, aku tak bisa berhenti untuk memikirkanmu dan meninggalkanmu. Kamu selalu ada dalam hati dan pikiran ini, meski kau selalu menyakitiku.” Itu karena aku mencintainya.

Setelah sikap Rais yang terlihat menyebalkan tanpa kejelasan perasaan padaku, perlahan dia mulai peduli dan lebih perhatian padaku. Meski hanya berlangsung sesekali waktu, tak tahu pasti apa maksud dari sikapnya. Walau begitu, aku bisa memakluminya, memaafkan sikap Rais, dan kembali ke sisinya. “Semudah itu aku melupakan pedasnya cintamu. Walau telah sakit perut dan berjanji untuk tak lagi makan cabai, namun tak butuh waktu lama untuk merasakan pedasnya lagi.”

Sampai semuanya berubah ketika aku tahu dia justru menggunakanku sebagai loncatan penyelesaian masalahnya dengan mendekatiku. Rais hanya menganggapku hanya sebagai perantara dia untuk meminta maaf pada temanku. Dia memanfaatkanku untuk meminta maaf pada Nami atas kesalahannya selama bertahun-tahun. Rais yang tak pernah akur dengan Nami semenjak kekurangajaran dia membuntuti Nami diam-diam. Nami merasa tak nyaman dengan perilaku Rais yang selalu mengikutinya ke mana Nami pergi.

Aku tak pernah menyadarinya dari awal. Rais membuatku seperti robotnya tanpa pergolakan apapun dariku. Aku menurutinya menyambungkan hubungannya dengan Nami. Rais terus membujukku untuk menjadi perantara hubungannya. Mulai dari proses membujuk Nami untuk memaafkannya.

Aku terlalu mengharapkan ketulusan Rais, seperti ketulusanku membantunya. Namun aku terlalu polos dan lugu menyadari semuanya. Tanpa bertanya kesalahan apa yang dia lakukan hingga harus meminta maaf sesulit ini. Dan aku yang percaya pembelaan Rais yang hanya terjadi kesalahpahaman dengan Nami.
Sampai saat Nami menceritakan semua yang terjadi. Perbuatan Rais yang ternyata dulu mencintai Nami. 
Cinta Rais yang berlebihan membuat Nami tak nyaman hingga Nami menjadi sangat terganggu.
Lagi-lagi penjelasan dari Nami tak cukup membuatku sadar. Aku menanyakan sekali lagi kebenaran itu. Dan Rais mengakuinya. Pada bagian ini pun masih tak bisa menyadari kebodohanku.
***
Aku berhasil menyatukan Rais. Senang mendapat ucapan terima kasih darinya. Merasa senang bisa membantunya mendapatkan maaf dari Nami. Meskipun aku tak tahu perasaan Rais pada Nami masih sama seperti dulu atau tidak. Aku tak pernah menanyakannya. Aku sduah cukup puas dengan jawaban Nami, bahwa Nami tak menyukai Rais. Aku berharap Rais tak lagi mencintai Nami.
Sampai pada saat hubungan Rais dan Nami baik-baik saja. Aku tak pernah mendapati kabar dari Rais, mendapat pesan singkat darinya, dan mendapatinya menemuiku lagi. Mungkin Rais sedang sibuk, mencari jawaban sendiri tanpa tahu kebenarannya.
Aku selalu berpikir bahwa Rais menaruh perhatian besar padaku. “Apa aku salah sangka dengan semua pikiranku tentangmu. Tentang responmu padaku, apa itu semua hanya pantulan untukmu tertuju pada Nami. 
Entahlah...”

Semenjak Rais mendapatkan maaf dari Nami, dia menjadi menjauh dariku. Rais lebih memilih untuk mengirim pesan singkatnya pada Nami. Nami menceritakan ketidakpeduliannya menanggapi sms dari Rais padaku. Nami meyakinkanku untuk tak mendekati Rais karena sepertinya Rais tak baik.
Satu hari setelah sms itu, aku masih yakin dengan perasaan bahwa Rais hanya ingin menjalin hubungan baik lagi dengan Nami. Memastikan bahwa Nami sudah melupakan semuanya. Hingga dia lebih memilih membangun hubungannya dengan Nami lebih dulu.

Hari berikutnya, aku mendengar Rais mengirimkan sms lagi pada Nami. Seperti yang sudah-sudah, Nami tak membalasnya. Namun Rais terus saja sms, memaksa Nami membalas pesan.
 Lalu, mengapa Rais tak ingat padaku. Mengapa dia lebih memilih Nami. Keraguanku pada keyakinan yang aku bangun sendiri. Tak masalah jika Rais terus-menerus sms dan menghubungi Nami. Namun dalam sekali waktu, mengapa dia tak menyempatkan untuk menghubungiku. Menunjukkan bahwa Rais memang lebih peduli dengan Nami.

Aku tak tahu, apa kali ini akan salah duga lagi. Namun, tanpa kabar darinya membuat semua teryakinkan. Aku tak lebih sebagai perantaranya. Tak lebih seperti kurir, hanya menghantarkan pesan yang kini telah berhasil sampai tujuan.
Pengantar hubungannya dengan Nami agar tersambung kembali. “Hanya sebatas itukah peranku di matamu? Dan kini semuanya telah selesai. Setelah semuanya tersampaikan, kamu tak ada lagi urusan denganku. Kamu bisa melupakannya.”
***
Entah mengapa, aku benar-benar yakin dengan keadaan yang membuatku percaya, aku kurir untukmu. Kepercayaan ini membuatku semakin membencimu. Tanpa kusadari, ternyata aku tak pernah benar-benar mencintaimu. Benciku terlalu besar dibanding cinta yang kumiliki untukmu.
“Tak lagi mengharapkan apapun dari perasaanmu. Sesuatu yang awalnya berada di Selatan bumi, kini telah berpindah ke ujung Utara bumi. Dua bagian yang sangat berseberangan.”
“Mungkin dulu aku dan kamu berada di arah yang sama. Namun kini, kamu di Selatan dan aku di Utara bumi. Aku dan kamu, mungkin memang tak pernah bisa saling bertemu.”
“Sekalipun harus dipaksakan, hatimu tak mungkin di tempatku. Dan harusnya aku sadar, aku salah berlaku tulus padamu karena tak ada satupun ketulusan darimu,” Walaupun tak ada lagi cinta di hati ini, perasaan bergejolak terus ada dalam batinku.
Aku tak suka dibohongi seperti ini. Rais berhasil membuatku mengecewakan diri sendiri. Lebih dari rasa kecewaku padanya. Kecewa karena aku telah salah meyakini hati ini.
***
Seminggu berlalu dan Rais masih mempertanyakan mengapa aku berubah. Rais merasa ada yang berubah dariku. Aku memang tak menceritakan padanya. Buat apa diceritakan, toh semua berubah karena dia. Tanpa harus diceritakan, harusnya dia lebih tahu dari apa yang kutahu.

Sikapku benar, karena respon Rais hanya sebatas mempertanyakan. Berjuangkah Rais untuk perubahan sikapku?! Bertanya namun tak ada usaha mencari jawaban. Semuanya jelas, tak ada kesungguhan dari hubungan ini. Lebih tepatnya, tak ada kesungguhan dari Rais.

Kalau dulu kamu sepotong kayu yang utuh, sekarang kamu hanya sebagai runtuhan dari kerapuhan kayu yang dimakan rayap. Sebagai runtuhannya, bukan sebagai sisa kayu yang digerogoti. Sudah sangat tak berartinya Rais di mataku.

Kebohongannya membuatku seperti orang bodoh. Tak mengertikah dia bahwa selain karena tak belajar orang menjadi bodoh, mempercayai suatu kebohongan juga membuat orang terlihat bodoh. Bodoh karena tak tahu kebenarannya. Tak menyangka jika kebodohan ini membuat cinta berakhir benci. Jika memang hubungan ini tak berhasil, tak seharusnya juga merusak hubungan kami sebagai sesama manusia yang saling rukun. Semua ini membuat jarak dan justru membangun benteng pemisah, yang menjadi pelindung dari rasa sakit.

Walaupun sudah biasa saja, tak memikirkan lagi yang telah terjadi namun untuk membangun kepercayaan pada Rais rasanya sulit. Biarlah aku dengan jalanku. Dan dia jauh dengan jalannya. Itu lebih baik daripada harus bertemu namun masih terbayang-bayangi dengan kejadian masa lalu. Dan memang keadaan menjadi lebih baik dengan tak pernah bertemunya aku dengan Rais lagi.

***

Pertemuan - Indefiniteness


Sebentar lagi aku akan bertemu denganmu. Meski bukan untuk mendekatimu, menyambut tanganmu, dan memelukmu. Hanya bisa melihatmu. Tak juga dapat membesarkan pupil mataku. Keberadaanmu terlalu jauh, hingga mataku harus sesipit orang Cina. Haruskah terus melihatmu dengan jarak yang hanya bisa melihatmu samar.

Tak apalah bagiku. Paling tidak aku bisa melihatmu. Aku takut jika suatu saat aku tak bisa melihatmu lagi. Jauhlah tak mengapa. Samarlah tak jadi masalah. Aku bahagia karena telah melihat wujudmu yang selama ini hanya bisa kupandang lewat dunia maya.

Menggambarkan dan mengintepretasikan dirimu sesukaku mengkhayalkannya. Mengira-ngira seperti apa kamu. Akankah sama atas apa yang kuinginkan dari gambaran pikiranku dengan adanya kamu. Menyatukan antara keinginanku seperti apa menggambarkanmu dengan apa yang kuketahui tentangmu.

Memang tak banyak yang kuketahui. Itu mengapa aku sangat sulit membedakan antara impian dan kenyataan. Walaupun mungkin tak akan berbeda jauh, tetap saja aku tak bisa mengenalimu jauh. Kamu jauh di impianku. Karena itu kamu jauh tak mengenalku.

Pertemuan ini, mungkin doaku yang kuminta untuk bertemu denganmu. Saat itu aku tak lebih hanya ingin melihatmu. Seandainya aku meminta untuk bisa mengenalmu lebih jauh, lebih dari sekadar bertemu. Namun aku juga tak tahu nantinya. Apakah terkabulnya sebatas doa berjumpa denganmu atau Tuhan akan memberikan lebih dari yang kuminta.

Apapun yang terjadi nanti, aku bersyukur bisa melihatmu. Tak bisa mengharap lebih atas pertemuan singkat dengan beratus orang nanti. Mata akan terbagi pandangan, perhatian akan tersebar. Sekilas tentang perjumpaan esok. Mungkin akan seperti itu, aku juga tak tahu. Keinginan agar mata dan perhatian terpusat untukku mungkin akan terpecah menjadi perbandingan dengan kesempatan terkecil.

Sepertinya nyamuk sudah kenyang mengisap darahku yangku biarkan terlarut dalam malam. Kalut menunggu mata terpejam. Memikirkan apa yang kunamakan harapan esok hari. Menakuti hal yang belum benar-benar terjadi. Mengkhawatirkan esok yang tak tentu sesuai dengan rencana. Menjadikan masa depan sebagai suatu hal yang mengerikan. Ya Tuhan, mengapa aku bisa setakut ini? Mengapa aku tak yakin dengan ketetapanmu? Aku berdosa untuk itu. Namun tak bisa kupungkiri bahwa aku benar-benar teringkup dalam naungan ketakutan. Menyedihkan memang, namun aku tak bisa menyembunyikannya. Aku terlalu mengasihani diriku. Aku takut diriku akan terluka dengan ketidakpastian.

Wednesday, February 29, 2012

Anak Kucing "Terperangkap"


Selesai kuliah, karena udah jam 12.00 juga, gue makan bareng temen-temen di belakang kampus. Lagi iseng-iseng duduk nunggu pesenan makan. Tiba-tiba dari jauh, gue lihat seekor anak kucing lagi lari-lari kecil.
Gue penasaran. Naah, gue hampiri itu kucing. Tiba-tiba pas gue hampiri, si kucing malah sembunyi di balik sapu lidi. Nacep-nacep itu lidi di tubuh anak kucing. Karena ga tahan ada di dalem atau mungkin ketakutan gara-gara gue samperin dan gue foto-foto. Akhirnya si kucing lari terbirit-birit melewati jeruji lidi yang berdiri kokoh di samping warung makan.
Untungnya, gue udah berhasil ngefoto ekspresi dia “anak kucing” lagi terkungkung di sapu lidi itu.
Niihh dia hasilnya...

*imuuuttkejepit*

Saturday, February 18, 2012

Kehilangan Cinta


Patah hati atau kehilangan cinta itu seperti cicak yang merelakan ekornya terputus ketika melindungi diri dari musuh sebagai pertahanan diri.


Sama seperti ketika kita harus merelakan cinta kita. Meskipun kita tak rela kehilangannya. Semua itu harus kita lakukan. Demi kebaikan orang yang kita sayang dan untuk kebaikan diri kita sendiri.

Atraksi di Udara


Lebaran dua tahun lalu, gue habiskan hidup di desa. Tempat tinggal nenek sampai saat beliau menutup mata. Sawah ini kenangan liburan lebaran terakhir bersama nenek.
Atraksi di tengah hamparan sawah. Kangen rasanya berpetualang di alam hijau sejauh mata memandang. Bukan seperti hidup di perkotaan. Gedung-gedung tinggi membumbung memenuhi cakrawala.


Wednesday, February 8, 2012

Daun pun dapat Mengungkapkan Cinta



Lewat bentuk menyerupai hati, yang biasa disimbolikkan sebagai ‘Love/ Cinta’.
Minggu pagi...
Saat itu gue menemukan indahnya cinta dibalik dedaunan berbentuk hati yang tertiup angin di ranting-ranting pohon.
Mungkin selain manusia, tumbuhan juga bisa jatuh cinta.
Jatuh cinta pada alam yang dia tempati.
Jatuh cinta dengan caranya sendiri.
Untuk tetap bertahan hidup menjejaki bumi yang menopang dia.
Mencintai apa yang menjadi kehidupannya...